JAZIRAH ARAB PRA ISLAM

Wednesday, 13 February 20130 komentar

A.    Bangsa Arab

Nama Arab menurut Mahmud Hasyim 'Athiya  mempunyai arti sama dengan kata 'Arabha dari bahasa Ibrani yang berarti tanah gelap atau steppe (padang rumput). dari kata Abhar yang berarti rahlah atau pengembara, karena orang-orang Baduwi itu adalah satu bangsa pengembara (nomad) yang selalu berpindah tempat kediaman.

Menurut Theoder Noldeke, seorang orientalis berkembangsaan Jerman, bahwa kata Arab atau Arabia itu berarti gurun pasir, karena tanah semenanjung itu sebagian besar tersiri dari gurun pasir

Kedua pendapat tersebut dapat disatukan dalam satu rumusan batasan bahwa semenanjung itu dunamakan Arab adalah karena sebagian tanahnya terdiri atas gurun dan kehidupan bangsa yang mendiaminya adalah pengembara.

B.     Keadaan Alam Arabia

Semenanjung arab adalah salah satu negeri yang terkering dan terpanas. Disamping itu, perbedaan suhu panas antara siang dan malam cukup besar.

Jazirah Arab terbagi menjadi menjadi dua bagian besar, yaitu bagian tengah dan bagian pesisir .

Pada bagian tengah Jazirah Arab disebut sebagai jantung Arab. Sebagian besar Jazirah  adalah padang pasir sahara dan tidak ada sungai yang mengalir tetap, yang ada hanya lembah-lembah berair di musim hujan. Disamping itu, hamparan pasir  yang dibawahnya dapat mengandung air, sehingga mungkin untuk dijadikan tanah pertanian dan ladang-ladang tempat orang Arab mengembala ternak, tempat demikian dinamakan Wadi atau Oasis. Di Wadi-wadi itulah orang Arab membangun desa-desa tempat kediaman (sementara) sebab mereka mempunyai tradisi nomad (berpindah).

Penduduk sahara sangat sedikit terdiri dari suku-suku Badui yang mempunyai gaya hidup pedesaan dan nomadik, berpindah dari satu daerah ke daerah lain guna mencari air dan padang rumput untuk binatang gembala mereka, kambing, dan onta.

Sementara di daerah bagian pesisis Arab penduduknya sudah hidup menetap dengan mata pencaharian bertani dan berniaga. Karena itu, mereka sempat membina berbagai macam budaya, bahkan kerajaan.

Sedangkan asal usul keturunan, penduduk jazirah Arab dapat dibagi menjadi dua golongan besar, Yaitu Qahthaniyun (keturunan Qahthan) dan ‘Adnaniyun (keturunan Ismail ibn Ibrahim).

C.      Tatanan Sosial Jazirah Arab

Masyarakat, baik nomadik maupun yang menetap, hidup dalam budaya kesukuan badui.  Organisasi dan identitas sosial berakar pada keanggotaan dalam suatu rentang komunitas yang luas. Kelompok beberapa keluarga membentuk kabilah (clan). Bebarapa kelompok kabilah membentuk suku (tribe) dan dipinpin oleh seorang Syaikh. Mereka sangat menekankan hubungan kesukuan, sehingga kesetiaan atau solidaritas kelompok menjadi sumber kekuatan bagi suatu kabilah atau suku. Mereka suka berperang. Karena itu, peperangan antar suku seringkali terjadi. Sikap ini tampaknya telah menjadi tabiat yang mendarah daging dalam diri orang Arab.

 Akibat peperangan yang terus menerus, kebudayaan orang-orang Badui tidak berkembang  dan tidak ada yang mendirikan kerajaan-kerajaan.

Lain halnya dengan penduduk yang mendiami pesisir jazirah Arab. Mereka telah berbudaya bahkan mampu mendirikan kerajaan-kerajaan. Sampai kehadiran Nabi Muhammad, kota-kota mereka masih merupakan kota-kota perniagaan dan memang jazirah Arab ketika itu merupakan daerah yang terletak pada jalur perdagangan yang menghubungkan antara Syam dan Samudera India.

Adapun kerajaan-kerajaan di pesisir jazirah Arab terpusat pada tiga kawasan yaitu Yaman, Wilayah Utara, Hijaz

a.        Kerajaan-kerajaan di Yaman pertama, Kerajaan saba' (955-115 SM). Kerajaan ini dibangun oleh golongan Qahthaniyun. Kerajaan ini berhasil membangun bendungan Ma’arib, sebuah bendungan raksasa yang menjadi sumber air untuk seluruh wilayah kerajaan. Pada masa kejayaannya, kemajuan kerjaan Saba’ di bidang kebudayaan dan peradaban, dapat dibandingkan dengan kota-kota dunia lain saat itu. Pada masa ini, bangsa Arab menjadi penghubung perdagangan antara Eropa dan dunia timur jauh. Kedua, Kerajaan Himyar. Kerajaan ini terkenal dengan kekuatan armada niaga yang menjelajah mengarungi India, Cina, Somalia, dan Sumatera ke pelabuhan-pelabuhan Yaman. Perniagaan ketika itu dapat dikatakan dimonopoli Himyar.

Namun kerjaan Himyar runtuh akibat runtuhnya bendungan Ma’arib maka sebagian besar penduduknya mengungsi ke bagian utara jazirah.

b.   Kerajaan-kerajaan di utara Jazirah. Kerajaan di wilayah ini merupakan kerajaan protektorat yang dibangun oleh dua imperium besar yakni Persia dan Romawi. Adapun kerajaan tersebut adalah Kerajaan Hirah, dibawah perlindungan persia. Sementara Kerajaan Ghassan dibawah kekuasaan orang Romawi. Raja-raja yang berkuasa umumnya berasal dari keturunan Arab Yaman.

c.    Hijaz

Kota terpenting di daerah ini adalah Makkah, kota suci tempat ka’bah berdiri, Ka’bah pada masa itu bukan saja disucikan dan dikunjungi oleh penganut-penganut agama asli Makkah, tetapi juga, oleh orang-orang Yahudi yang bermukim disekitarnya.

Untuk mengamankan para peziarah yang datang ke kota itu, didirikanlah suatu pemerintahan yang pada mulanya berada di tangan dua suku yang berkuasa, yaitu kabilah Jurhum yang berasal dari Yaman. Sebagai pemegang kekuasaan politik dan Bani Adnaniyyun (keturunan Ismail ibn Ibrahim), sebagai pemegang kekuasaan atas Ka’bah. Setelah itu Mekkah tunduk pada pemerintahan khuza'ah dan orang Khuzaah lah yang membawa penyembahan terhadap berhala yang dibawa dari Syam bernama 'Amr bin Luhay. Kemudian di kuasai oleh Kinanah (Quraisy adalah salah satu keturunan dari Kinanah). Qusay bin Kilab (kakek nomor empat Rasulullah) berhasil mengusir Khuza’ah dari Mekkah dan menjadi pemimpin Mekkah. Maka jadilah Mekkah berada dibawah kepemimpinan Quraisy

Oleh karena itu, kota Mekah sebagai kota kenegaraan selalu siap menyambut setiap pendatang menghadiri perayaan, melakukan ibadah haji, atau pun sekadar lewat dengan rombongan berunta. Memberi pelayanan permintaan ini memerlukan keamanan dan fasilitas yang memadai, dan, oleh karena itu institusi kemudian dibangun di kota Mekah (di mana beberapa di antaranya oleh Qusayy sendiri): seperti Nadwa (lembaga perkotaan), Mashura (dewan nasihat), Qiyada (kepemimpinan), Sadana (adminstrasi kota suci), Hijaba (pemeliharaan Ka’bah), Siqaya (pengadaan air minum buat para jemaah haji), Imaratul-bait (pemeliharaan kesucian Ka’bah), Ifa`da (mereka yang berhak memberi izin pada orang pertama yang melangkah dalam acara perayaan), Ijaza, Nasi (institutsi penyesuaian kelender), Qubba (membuat tenda mengumpulkan sumbangan bagi mengatasi keadaan darurat, A’inna (pemegang kendali kuda), Rafada (pajak untuk membantu para jemaah haji yang miskin), Amwal muhajjara (sedekah untuk kesucian), Aysar, Ashnaq (pembuat perkiraan pertanggungan jawab keuangan) Hukuma (pemerintahan), Sifarah (kedutaan), `Uqab (penentuan standar), Liwa (panji) dan Hulwan-un­nafr (mobilisasi kesejahteraan).

D.      Keadaan Perekonomian Jazirah Arab

Setelah kerajaan Himyar jatuh, jalur-jalur perdagangan didominasi oleh kerajaan Romawi dan Persia. Pusat Perdagangan bangsa Arab serentak kemudian beralih ke daerah Hijaz. Mekkah pun menjadi masyhur dan disegani. Begitu pula suku Quraisy. Kondisi ini membawa dampak positif bagi mereka, perdagangan menjadi semakin maju.

Jadi, apa yang berkembang menjelang kebangkitan Islam itu merupakan pengaruh dari budaya bangsa-bangsa disekitarnya. Pengaruh itu melalui beberapa jalur.

1.        Melalui hubungan deagang dengan bangsa lain.  Melalui jalur perdagangan ini, bangsa Arab berhubungan dengan bangsa-bangsa Syria, Persia, Habsyi, Mesir (Qibthi), dan Romawi.

2.        Melalui kerajaan-kerajaan protektorat. Banyaknya koloni-koloni tawanan Perang Romawi dan Persia di Ghassan dan Hirah. Penganut agama Yahudi juga mendirikan koloni di Jazirah Arab diantaranya Yatsrib. Suku bangsa Nomad terus mengalami perubahan. Suku bangsa Tha ‘liba dari keturunan Qahtan juga tinggal di Madinah. Di antara anak cucu keturunan mereka adalah kabilah Aws dan Khazraj, yang kemudian ke duanya lebih dikenal sebagai kaum al-Ansar’ (pendukung utama Nabi Muhammad).

3.        Masuknya misi Yahudi dan Kristen. Mayoritas penganut agama Yahudi tersebut pandai bercocok tanam dan membuat alat-alat dari besi, seperti perhiasan dan persenjataan. Aliran Kristen yang masuk ke jazirah Arab ialah aliran Nestorian di Hirah dan aliran Jacob-Barady di Ghassan. Daerah Kristen yang terpenting adalah Najran, sebuah daerah yang subur. Penganut agama Kristen tersebut berhubungan dengan Habsyah (Ethiopia), Negara yang melindungi agama ini.

E.       Kondisi keagamaan di Jazira Arabia

Sebahagian orang Arab itu adalah penganut syariat Ibrahim. Ibrahim a.s. pernah diperintahkan Allah mengorbankan anaknya Isma'il. Kemudian pemimpin-pemimpin agama mereka mengaburkan pengertian berkorban itu, sehingga mereka dapat menanamkan kepada pengikutnya, rasa memandang baik membunuh anak-anak mereka dengan alasan mendekatkan diri kepada Allah, padahal alasan yang sesungguhnya ialah karena takut miskin dan takut ternoda.

Namun demikian, bangsa Arab kebanyakan masih menganut agama asli mereka, yaitu percaya kepada banyak dewa yang diwujudkan dalam bentuk berhala dan patung. Setiap kabilah mempunyai berhala sendiri. Berhala-berhala tersebut dipusatkan di Ka’bah. Berhala terpenting adalah Hubal, yang dianggap sebagai dewa terbesar, terletak di Ka’bah; Al Lata, dewa tertua, terletak di Thaif, al Uzza bertempat di Hijaz. Demikianlah,\ keadaan bangsa dan jazirah Arab menjelang kebangkitan Islam.
Share this article :

Post a Comment

Daftar Isi Blog
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Akidah Filsafat - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger