PEMIKIRAN PENDIDIKAN HASAN LANGGULUNG

Saturday, 16 February 20130 komentar

A.Pendahuluan

Hakikatnya, pendidikan merupakan upaya mewariskan nilai, yang akan menjadi penolong dan penuntun umat manusia dalam menjalani kehidupan dan sekaligus untuk memperbaiki nasib dan peradaban umat manusia. Tanpa pendidikan dapat dipastikan bahwa manusia sekarang tidak berbeda dengan generasi manusia masa lampau. Karena itu, secara ekstrim dapat dikatakan bahwa maju mundur atau baik buruknya peradaban suatu masyarakat atau bangsa sangat ditentukan oleh bagaimana proses pendidikan yang dijalani oleh masyarakat bangsa tersebut. (Kasinyo Harto, 2002: 89).

J. Adler mengartikan pendidikan sebagai proses dimana semua kemauan manusia (bakat dan kemampuan yang diperoleh) yang dapat dipengaruhi oleh pembiasaan, disempurnakan dengan kebiasaan-kebiasaan yang baik melalui sarana yang secara artistik dibuat dan dipakai oleh siapapun untuk membantu orang lain atau dirinya sendiri mencapai tujuan yang ditetapkan yaitu kebiasaan yang baik (Arifin, 1994: 12).

Bila dilihat dari perspektif Pendidikan Islam, pendidikan dapat diartikan sebagai upaya menjadikan manusia sebagai khalifatullah fi Ardh yang tetap dalam keadaan menghambakan diri kepada Allah (‘Abdullah). Hal ini terlihat pada definisi yang diberikan para ahli. Seperti Omar Muhammad al-Toumy al-Syaebani, misalnya mengartikan pendidikan Islam sebagai usaha mengubah tingkah laku individu dalam kehidupan pribadinya atau kehidupan kemasyarakatannya dan kehidupan dalam alam sekitarnya melalui proses kependidikan, perubahan itu dilandasi dengan nilai-nilai Islam.

Dapat dipahami bahwa pendidikan Islam itu merupakan satu proses yang tidak hanya menyangkut transfer ilmu, akan tetapi bagaimana menjadikan manusia makhluk berakhlak dengan akhlak yang baik serta dari hasil pendidikan itu dapat membantu kehidupan diri dan kemasyarakatannya dengan berlandasan ajaran Islam. Faktor agama tampaknya memang tak dapat dipisahkan dari hubungannya dengan perilaku manusia, baik secara individu maupun secara kelompok. Manusia mempunyai kebutuhan keagamaan yang instrinsik yang tidak dapat dijelaskan melalui sesuatu yang mengatasinya dan yang diturunkan dari kekuatan-kekuatan supranatural. (Rohmalina Wahab, 2002: 110).

Terlepas dari penjelasan diatas, makalah ini akan berbicara tentang seorang tokoh dan pemikirannya terhadap perkembangan pendidikan terutama pendidikan islam, dan tokoh tersebut bernama Hasan Langgulung.

B.Pembahasan

1. Riwayat Hidup Hasan Langgulung

Prof. DR. Hasan Langgulung lahir di Rappang Sulawesi Selatan. Pendidikan Dasar dilaluinya di Rappang dan Makassar. Sekolah Menengah Pertama dan Seklah Islam di Makassar pada tahun 1949-1952. Ia menempuh studi di Islamic Studies dari fakultas Da al-Ulum, Cairo University pada tahun 1962, gelar Diploma of Education diperolehnya dari Ein Shams University, Cairo pada tahun 1963. Kemudian mendapatkan gelar MA dalam bidang Psikologi dan Mental Hyegine pada Ein Shams University, Cairo tahun 1967, selanjutnya ia memperoleh gelar Diploma dalam bidang Sastra Arab Modern dari Institut of Higher Arab Studies, Arab Leage, Cairo pada tahun 1964. Gelar PhD diperolehnya dalam bidang Psikologi dari University of Georgia Amerika Serikat pada tahun 1971.

Beliau pernah mengajar di University Kebangsaan Malaysia sebagai Profesor senior selama beberapa tahun dan sekarang beliau mengajar di University Islam Antar Bangsa Kuala Lumpur, Malaysia juga sebagai Profesor Senior pada tahun 2002. Ia mendapat penghargaan Profesior Agung (Royal Profesor) pada tahun 2002 di Kuala Lumpur, Malaysia oleh masyarakat akademik Dunia. (Hasan Langgunlung, 2003:241).

2. Pemikiran Pendidikan Islam Hasan Langgulung

a. Pengertian Pendidikan Islam

Istilah Pendidikan Islam dalam pandangan Hasan Langgulung digunakan sekurang-kurangnya untuk 8 (delapan) pengertian dan dalam konteks yang berbeda yaitu:

1. Pendidikan Keagamaan (al-Tarbiyah al-Diniyah)

2. Pengajaran Agama (al-Ta’lim al-Islami)

3. Pengajaran Keagamaan (al-Ta’lim al Dinity)

4. Pendidikan Keislaman (al-Ta’lim al-Islami)

5. Pendidikan dalam Islam (al-Tarbiyah fi al-Islam)

6. Pendidikan di kalangan orang Islam (al-Tarbiyah Inda al-Muslimin)

7. Pendidikan orang-orang Islam (Tarbiyah al-Muslimin)

8. Pendidikan Islam (al-Tarbiyah al-Islamiyah)

Untuk memahami betul-betul pengertian yang ditulis tentang apa yang dimaksudkan pendidikan Islam (al-Tarbiyah al-Islamiyah) menurut Hasan Langgulung kita harus dapat menggabungkan istilah pendidikan dalam Islam (al-Tarbiyah fi al-Islam) dan pendidikan di kalangan orang-orang Islam (al-tarbiyah Inda al-Muslimin)dengan penegrtian yang dimaksud adalah:

Kerangka pemikiran yang menangani berbagai masalah-masalah pengajaran dan konsep-konsep pendidikan dalam asas-asas teoritisnya dan media praktisnya seperti yang dinyatakan di dalam al-Qur’an dan Sunnah sebagai dasar pokok, kemudian menerima sumbangan-sumbangan pemikiran (al-Turath a-Fikr) yang telah dibawa pakar-pakar dalam berbagai bidang seperti ulama-ulama fiqih, ulama-ulama hadits, ulama-ulama falsafah dan ahli-ahli fikir Islam sepanjang sejarah. (Hasan Langgulung, 2002:68-69).

b. Kurikulum Pendidikan Islam

Pendidikan akhlaq adalah pusat yang di sekelilingnya berputar program dan kurikulum pendidikan Islam. Dapat kita ringkaskan tujuan pokok pendidikan Islam dalam satu perkataan: Fadillah (sifat yang utama). Filosof-filosof Islam sepakat bahwaPendidikan Akhlaq adalah jiwa pendidikan Islam. Sebab tujuan pertama dan termulia pendidikan Islam adalah menghaluskan akhlaq dan mendidik jiwa.

Yang dimaksud akhlaq dan fadilah disini ialah bahwa manusia berkelakuan dalam kehidupannya sesuai dengan kemanusiaannya, yaitu kedudukan mulia yang diberikan kepadanya oleh Allah melebihi makhluk-makhluk yang lain, ia diangkat sebagai khalifah.Dari itu maka ilmu adalah jalan ke arah pendidikan akhlaq itu dan untuk sampai kepada fadilah itu. Dengan syarat ia bukanlah ilmu teoritis tetapi ilmu praktis, yaitu ia haruslah diterjemahkan ke dalam kenyataan yang hidup yang merapkan ketinggian akhlaq bagi individu, perpaduan dan intedependen bagi kumpulan, kemajuan peradaban yang terus menerus dimana terlaksana kebaikan untuk individu dan kumpulan sekaligus.

Kurikulum dalam pendidikan islam bersifat fungsional, tujuannya mengeluarkan dan membentuk manusia Muslim, kenal agama dan Tuhannya, berakhlaq al-Qur’an, tetapi juga mengeluarkan manusia yang mengenal kehidupan, sanggup menikmati kehidupan yang mulia, dalam masyarakat bebas dan mulia, sanggup memberi dan membina masyarakat itu, mendorong dan mengembangkan kehidupan di situ melalui pekerjaan tertentu yang dikuasainya. (Hasan Langgulung, 1992; 117-118).

c. Pendekatan dalam Pendidikan Islam

Hasan Langgulung menyimpulkan tentang pendekatan dalam pendidikan Islam yang terbagi ke dalam tiga pendekatan Hasan Langgulung, 1992:71; Pendekatan Pertamamengganggap pendidikan sebagai Pengembangan Potensi. Pendekatan kedua cenderung melihatnya sebagai pewarisan budaya. Sedang Pendekatan ketiga menganggapnya sebagai Interaksi antara potensi dan budaya. Dimana ketiga pendekatan diatas tidak dapat berjalan sendiri-sendiri.

1) Pengembangan Potensi

Kalau sifat-sifat Tuhan yang berjummlah 99 diaktualisasikan pada diri dan perbuatan manusia niscaya ia merupakan potensi yang tak terkira banyaknya. Ini menggambarkan bagaimana komplikasinya potensi yang dimiliki manusia. Sehingga kalau ia diletakkan di sebuah lingkungan tanpa sumber hidup sama sekali, ia tetap survive, karena potensi yang dimilikinya itu. Sehingga potensi manusia sebagai karunia Tuhan itu haruslah dikembangkan, sedang pengembangan potensi sesuai dengan petunjuk Tuhan itulah yang disebut ibadah. Jadi, kalau tujuan kejadian manusia adalahibadah dalam pengertian pengembangan potensi-potensi, maka akan bertemu dengan tujuan tertinggi (ultimate aim) pendidikan Islam untuk mencipta manusia ‘abid(penyembah Allah). (Hasan Langgulung, 1989:161).

2) Pewarisan Budaya

3) Interaksi Antar Potensi dan Budaya

Dalam kaitannya dengan Islam, interaksi antara potensi dan budaya ini lebih menonjol sebab baik potensi yang berupa roh Allah yang disebut fitrah, seperti dinyatakan dalam hadits yang artinya: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, hanya orang tuanya menyebabkan ia menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi” (HR Bukhari), ataupun agama yang diwahyukan kepada Rasul itu juga adalah fitrah, seperti firman Allah yang artinya: “Fitrah Allah yang menciptakan manusia sesuai dengannya”. (Q.S. 30:30).

Jadi, fitrah sebagai potensi yang melengkapi manusia semenjak lahir dan fitrahsebagai din yang menjadi pondasi tegaknya peradaban Islam. Pendeknya, fitrahdipandang dari dua sudut yang berlainan. Dari satu segi adalah potensi, dari segi lain ia adalah din. Yang satu adalah roh Allah (Q.S. 15:29) sedang segi yang lain adalah perkataan (kalam) Allah. Dalam sejarah pendidikan Islam, kita akan melihat bagaimana pendekatan-pendekatan pendidikan ini beroperasi dengan memperhitungkan aspek-aspek lingkungan dimana ia berada, tanpa melupakan tujuan kejadian manusia. (Hasan Langgulung, 1989:161).

d. Strategi Pendidikan Islam

Strategi pendidikan yang diusulkan oleh Hasan Langgulung (2002:74-83) terdiri dari tiga komponen utama, yaitu tuuan, dasar dan prioritas dalam tindakan.

1) Tujuan

Ada dua pokok yang ingin dicapai oleh pendidikan Islam, yaitu; pembentukan insan yang shaleh dan beriman kepada Allah dan agama-Nya dan pembentukan masyarakat yang shaleh yang mengikuti petunjuk agama Islam dalam segala urusannya.

a. Pembentukan Insan Shaleh

Yang dimaksudkan dengan insan shaleh adalah manusia yang mendekati kesempurnaan. Yang dimaksud pembentukan insan shaleh dan beriman kepada Allah tidaklah aku menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka menyembah kepada-Ku. (Q.S. 51:56) manusia yang penuh keimanan dan takwa, berhubung dengan Allah memelihara dan menghadap kepada-Nya dalam segala perbuatan yang dikerjakan dan segala tingkah laku yang dilakukannya, segala fikiran yang tergores dihatinya dan segala perasaan yang berdetak dijantungnya. Ia juga bersifat benar, jujur, ikhlas memiliki rasa keindahan dan memiliki keseimbangan;

1) Pada kepribadiannya: suatu aspek tidak melebihi yang lain. Jasad, jiwa, akal dan roh semuanya bertumbuh dan pertumbuhannya terpadu

2) Ia memakmurkan dunia dan mengeluarkan hasilnya

3) Insan shaleh dalam Islam terbuka kepada jagad raya, merasakan bahwa ia sebagian yang tidak terpisah daripadanya dan senantiasa mencari rahasia dan hikmahnya

4) Ia bekerja karena kerja itu pada dasarnya adalah ibadah dan kerjanya itu tidak hanya bertujuan mencari rizki

5) Dalam ibadahnya kepada Allah, ia merasa berdikari, kuat dan kukuh karena ia wujudnya bergantung kepada Allah

b. Pembentukan Masyarakat Shaleh

Pendidikan Islam pada tahap pembentukan masyarakat adalah pada perkara-perkara berikut:

1) Menolong masyarakat membina hubungan-hubungan sosial yang serasi, setia kawan, kerjasama, interindependen dan seimbang

2) Mengukuhkan hubungan di kalangan kaum Muslimin dan menguatkan kesetiakawanan melalui penyantuan pemikiran, sikap nilai-nilai. Ini semua bertujuan menciptakan ksesatuan Islam

3) Menolong masyarakat Islam mengembangkan diri dari segi perekonomian

4) Memberi sumbangan dalam perkembangan masyarakat Islam. Yang dimaksud dengan perkembangan adalah penyesuaian dengan tuntutan kehidupan modern dengan memelihara identitas Islam karena Islam tidak bertentangan dengan perkembangan dan pembaharuan Islam.

5) Mengukuhkan identitas budaya Islam

Inilah tujuan-tujuan terpenting yang ingin dicapai oleh pendidikan Islam. Untuk mencapai tujuan-tujuan ini, pendidikan Islam haruslah bertolak dari berbagai dasar pokok yang dapat disimpulkan sebagai berikut:

2. Dasar-dasar Pokok

Dasar-dasar pokok pendidikan di dunia Islam adalah ajaran Islam itu sendiri, diantaranya:

a. Keutuhan (Syumuliyah)

b. Keterpaduan

1) Patutlah pendidikan Islam dalam memperlakukan individu bahwa ia memperhitungkan ciri-ciri kepribadiannnya: jasad, jiwa, akan dan yang berkaitan secara organik, berbaut satu sama lain sehingga bila terjadi perubahan pada salah satu komponennya, maka akan berlaku perubahan-perubahan pada komponen-komponen yang lalu

2) Pendidikan Islam harus bertolak dari keterpaduan individu-individu di masyarakat Islam dan dari keterpaduan negara-negara Islam

c. Kesinambungan

1) Patutlah sistem pendidikan Islam itu memberi peluang belajar pada tiap tingkat umur, tingkat sekolah dan setiap suasana

2) Patutlah juga pendidikan itu selalu membaharui diri

d. Keaslian

1) Pendidikan Islam haruslah mengambil komponen-komponen, tujuan-tujuan, kandungan dan metode dalam kurikulumnya dari peninggalan Islam sendiri sebelum ia menyempurnakannya dengan unsur peradaban lain di dunia ini

2) Haruslah ia memberi prioritas kepada pendidikan kerohanian yang diajarkan oleh Islam

3) Pendidikan kerohanian Islam sejati menghendaki agar kita menguasai bahasa Arab, yaitu bahasa al-Qur’an dan Sunnah

4) Keaslian ini menghendaki juga pengajaran sains dan seni modern dalam suasana perkembangan dimana yang menjadi pedoman adalah aqidah Islam

e. Bersifat ilmiah

f. Bersifat pratikal

g. Kesetiakawanan

h. Keterbukaan

3) Prioritas Dalam Tindakan

Bertolak dari tujuan-tujuan dan dasar-dasar pokok yang telah dikemukakan, maka Hasan Langgulung memandang perlu adanya prioritas dari segi yang harus diberikan oleh orang-orang yang bertanggungjawab tentang pendidikan di dunia Islam. Komponen itu adalah:

a. Berusaha menyerap semua anak-anak yang mencapai umur sekolah dan membuat perancangan pendidikan dan ketrampilan minimun untuk membolehkan mereka, bagi yang tidak dapat melanjutkan pelajaran, memasuki kehidupan sehari-hari dengan modal ketrampilan yang terhormat

b. Melaksanakan berbagai jalur perkembangan tahap pendidikan dan membimbingnya ke arah yang fleksibel dan licin

c. Meninjau kembali kandungan dan kaedah pendidikan supaya sesuai dengan semangat Islam dan ajaran-ajarannya, dan berbaagai keperluan-keperluan ekonomi, teknik dan sosial

d. Mengukuhkan pendidikan agama dan akhlak dalam seluruh tahap dan bentuk pendidikan, supaya generasi baru dapat menghayati nilai-nilai Islam semenjak masa kecil

e. Kerjasama. Kerjasama adalah salah satu dari aspek utama yang harus mendapat perhatian besar dikalangan penanggungjawab-penanggungjawab pendidikan karena kesetiakawanan dan kesepaduan di antara negara-negara Islam

Inilah inti prioritas yang sepatutnya dijalankan oleh penanggung jawab pendidikan di tiap negara Islam untuk mencapai tujuan dari pendidikan Islam, yaitu pembentukan insan shaleh dan masayrakat yang shaleh.

C.Penutup

Ketika lahir, manusia tidak begitu saja mampu memahami fenomena sekeliling secara sadar dan benar. Semua itu butuh waktu dan arahan. Seingga pada saatnya nanti dia tidak hanya mampu memahami, tetapi juga mampu memanifestasikan kejadian demi kejadian menjadi sebuah realitas. Pada saat itulah sebagian realitas kemandiriannya sebagai makhluk berakal, telah ia sadari. Proses penyadaran inilah yang belakangan disebut pendidikan.

Pendidikan sebagai upaya menyiapkan generasi penerus agar dapat bersosialisasi dan beradaptasi dengan budaya yang mereka anut, sebenarnya merupakan salah satu tradisi umat manusia yang hampir setua usia manusia itu sendiri. Artinya, secara ilmiah ada upaya regenerasi. Sehingga eksistensi peradaban manusia dapat terjaga dan berkembang.

 Hasan Langgulung sebagai salah satu tokoh pendidikan Islam pada era global Dalam pandangan Hasan Langgulung bahwa pendidikan Islam pada akhirnya harus mampu mengeluarkan dan membentuk manusia Muslim, kenal dengan agama dan Tuhannya, berakhlak al-Qur’an, tetapi juga mengeluarkan manusia yang mengenal kehidupan, sanggup menikmati kehidupan yang mulia, dalam masyarkaat yang bebas dan mulia, sanggup memberi dan membina masyarakat itu, mendorong dan mengembangkan kehidupan disitu melalui pekerjaan tertentu yang dikuasainya.



DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 1994

Departemen Agama RI., Al-Qur’an dan Terjemahannya, Surabaya: Mahkota, 1989

Harto, Kasinyo., Rekontruksi Pendidikan Islam, dalam Jurnal Pendidikan IslamConciencia, No. 2 Volume II, Desember 2002, hlm. 89

Langgulung, Hasan., Pendidikan Islam dalam Abad ke-21, Jakarta: Pustaka al-Husna Baru, 2003
Share this article :

Post a Comment

Daftar Isi Blog
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Akidah Filsafat - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger