SISTEMATIKA PENERAPAN PENDEKATAN NAZRIYYAH AL-WAHDAH

Thursday, 28 March 20131komentar

Oleh: Syafieh dan Ibn Khaldun

A.  Pendahuluan

Sistematika penerapan pendekatan nazriyyah al-wahdah (teori terpadu) dalam pembelajaran bahasa Arab saat ini adalah merupakan sebuah indikator yang menunjukkan tentang eksistensi mata pelajaran Bahasa Arab di madrasah-madrasah sejak lama dan sejak diberlakukannya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan pada tahun 2006, tepatnya pada tahun ajaran 2007/2008, hal ini menunjukkan bahwa pendekatan nazriyyah al-wahdah dalam pembelajaran bahasa Arab memainkan peranan yang sangat penting dalam mencapai tujuan pembelajaran bahasa Arab yang tuntas dan berkualitas.

Penerapan sistem terpadu ini akan menimbulkan tekhnik-tekhnik baru dalam pembelajaran bahasa Arab. Penerapan pendekatan ini juga membawa pengaruh yang signifikan pada: (1) Perubahan pelaksanaan pengajaran bahasa Arab di madrasah dimana pengajaran bahasa sebagai alat ditangani oleh guru pengajar bahasa Arab dan lembaga bahasa madrasah. (2) Perubahan kurikulum dan silabus di madrasah khususnya mengenai pengajaran bahasa sesuai dengan adanya perubahan yang menyangkut pengajaran bahasa sehingga lembaga bahasa kini berperan untuk pengajaran bahasa. (3) Adanya usaha penyusunan buku paket pelajaran bahasa Arab baru untuk tingkat menengah. (4) Perlunya pengadaan sarana fisik seperti alat-alat peraga (audio visual aids) yaitu garnbar-gambar, film-film, overhead projector. tape recorder, dan yang terpenting ialah Laboratorium Bahasa ; dan (5) Perlunya penataran, lokakarya dan yang semacamnya yang dimaksudkan untuk membina para pengajar atau calon-calon pengajar bahasa Arab berdasarkan pembaharuan‑pembaharuan baik yang menyangkut metode pengajaran, buku-buku text book baru, penggunaan alat-alat peraga, dan lain sebagainya.[1]

Sebagaimana dipahami bersama bahwa bentuk pembelajaran bahasa Arab, secara umum dibagi kepada dua bentuk, yaitu aktif dan pasif, begitu juga halnya dengan implementasi pembelajaran bahasa Arab itu sendiri. Bentuk pembelajaran yang aktif biasanya lebih menekankan kepada kemahiran berbicara (muhadasah1speaking) dan (istima'17istening), sedangkan bentuk pembelajaran yang pasif lebih menekankan pada kemahiran membaca (qiraahlreading), dan menulis (kitabah/writing). Bentuk yang aktif biasanya digolongkan kepada pendekatan sistem pembelajaran yang modem, sedangkan yang pasif digolongkan kepada pendekatan sistem pembelajaran yang tradisional. Pembelajaran bahasa Arab menekankan pada aspek kemahiran berbahasa yang meliputi keterampilan berbahasa aktif dan pasif serta lisan dan tulisan baik respeklif maupun produktif.

Saat ini telah dikembangkan suatu bentuk pendekatan sistem pembelajaran bahasa Arab di madrasah–madrasah dan yang menerapkan pada empat kemahiran berbahasa yaitu; mendengar, berbicara, membaca, dan menulis, yang dikenal dengan istilah pendekatan sistem terpadu, di mana -penerapan pendekatan sistem pembelajaran bahasa ini tidak dapat disajikan secara terpisah dalam pembelajarannya, seperti pada pendekatan sistem bagian/cabang,[2] di mana istilah pendekatan sistem ini adalah bentuk lain dari pengertian sistematika pembelajaran bahasa Arab yang terintegrasi.

Berdasarkan pengamatan yang peneliti lakukan, bahwa sistematika penerapan pendekatan nazriyyah al-wahdah dalam buku-buku paket pembelajaran bahasa Arab pada madrasah–madrasah di Kota Langsa mendeskripsikan adanya; (a) keterpaduan unsur-unsur mata pelajaran bahasa Arab yang terdiri dari kosa kata, stuktur kalimat, percakapan, tata bahasa, menulis, dan mendengar disajikan dalam ungkapan komunikatif yang sesuai dengan judul dan tema pokok bahasan. (b) keterpaduan pembelajaran unsur-unsur mata pelajaran bahasa Arab ditujukan untuk mendukung penguasaan dan pengembangan empat kemahiran berbahasa yang mencakup mendengar, berbicara, membaca, dan menulis. (c) proses pembelajaran bahasa Arab yang mengarah pada empat kemahiran berbahasa dengan materi bahasa yang dianggap sulit bagi peserta didik disajikan dengan pola dan sistem pendekatan yang sesuai dengan materi pelajaran yang dibahas. (d) peserta didik dilibatkan dalam semua kegiatan pembelajaran bahasa Arab yang terpadu dan bermakna, yaitu pembelajaran secara bersamaan yang dapat membantu mengembangkan diri peserta didik dalam bidang mendengarkan teks-teks arab dari pembicara asli (native speaker), membaca teks-teks arab serta memahaminya dari buku-buku bahasa arab yang tersedia, menulis tulisan arab dalam bentuk dikte (imla) dan mengarang (insya) serta berbicara untuk melatih ucapan­ucapan arab dan latihan pengaturan lisan (ekspresi), sehingga mendorong peserta didik untuk menumbuhkan kemahiran dan mengembangkan keterampilan berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Arab yang baik dan benar.

Teori-teori yang relevan dengan pendekatan nazrbyah al-wahdah adalah: pertama, ilmiak dimana pendekatan nazrbyah al-wahdah ini dapat dipertanggung-jawabkan secara keilmuwan. Artinya di dalam metodologi pembelajaran bahasa Arab manajemen penerapan pendekatan yang digunakan meliputi pengertian pendekatan nazriyyah al-wahdah perencanaan pelaksanaan dan penilaian (evaluasi) pendekatan ini serta penerapannya dalam pembelajaran bahasa Arab. Kedua, relevan, cakupan kedalam, kelebihan, dan kekurangan serta penerapan pendekatan ini disesuaikan dengan tingkat perkembangan intelektual, sosial, budaya, emosional serta spiritual peserta didik danndidik itu sendiri. Ketiga, sistematis, di mana komponen-komponen pendekatan sistem ini berhubungan secara fungsional dalam mencapai kemahiran berbahasa mendengar, berbicara, membaca, dan menulis. Keempat, konsisten, adanya keberlangsungan antara manajemen penerapan pendekatan sistem terpadu dengan pembelajaran bahasa Arab (dilaksanakan dalam mencapai empat kemahiran berbahasa  yaitu;membaca, menulis, berbicara, dan mendengar).

Teori-teroi di atas akan terlaksana dengan baik dan maksimal apa bila memperhatikan beberapahal dalam system belajar mengajar bahasa Arab, di antaranya adalah: a) aktual dan kontekstual, merupakan indikator sistematika penerapan pendekatan nazriyyah al-wahdah, harus memperhatikan perkembangan ilmu pengetahuan kebahasaan dan metodologi pembelajaran bahasa Arab yang dilaksanakan bersama-sama dalam proses pembelajaran oleh guru dan peserta didiknya. b) fleksibel, di mana keseluruhan komponen sistematika penerapan pendekatan nazriyyah al-wahdah dapat digunakan oleh guru dalam berbagai kebutuhan peserta didik di madrasah. c) komprehensi (menyeluruh), komponen pendekatan nazriyyah al-wahdah mencakup pengembangan keseluruhan ranah kognitif, afektif, dan psikomotor, dengan demikian maka dalam pembelajaran bahasa Arab harus mengacu pada ketiga aspek tersebut di atas.

Dalam pengamatan peneliti, bahwa tujuan kurikuler pembelajaran bahasa Arab pada madrasah-madrasah di Kota Langsa adalah untuk mencapai: peserta didik mampu mempraktekkan bahasa Arab melalui mendengar, percakapan, bacaan dan tulisan secara lisan (reseptif). Kedua, peserta didik mampu mengutarakan pikiran dan perasaannya melalui mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis secara tulisan (ekspresif). Kedua tujuan kurikuler pembelajaran bahasa Arab tersebut diikuti oleh materi pelajaran, pendekatan, metode serta tehnik dan strategi yang tepat.

Materi pelajaran bahasa Arab bukan hanya sekedar pengetahuan semata, akan tetapi lebih luas dari pada itu, sehingga diharapkan antara guru dan peserta didik dapat menghayati mata pelajaran bahasa Arab sebagai bahasa komunikasi, bahasa budaya dad bahasa ilmu pengetahuan, oleh karena itu sistematika penerapan pendekatan nazriyyah al-wahdah dalam pembelajaran bahasa Arab antara aspek mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis merupakan bagian integral (terpadu) yang tidak dapat dipisahkan.

Temuan di lapangan berdasarkan pengamatan awal menunjukkan bahwa sistematika penerapan pendekatan sistem terpadu ini oleh para pengajar bahasa Arab belum mengarah kepada terintegrasinya pembelajaran bahasa Arab untuk mencapai, empat kemahiran berbahasa yang diinginkan dari sistematika penerapan pendekatan sistem terpadu dalam pembelajaran bahasa Arab, hal ini disebabkan oleh beberapa faktor di antaranya: (a) Minimnya pemahaman guru bahasa Arab tentang hakikat sistematika penerapan pendekatan sistern terpadu dalam nembelaiaran bahasa Arab yang meliputi perencanaan, pelaksanaan dan penilaian (evalnasi) bagi peserta didik di lapangnan. (b) Terbatasnya sarana media pembelajaran yang mendukung langsung bagi terlaksanannya pendekatan ini di lapangan, khususnya untuk penerapan kemahiran berbahasa mendengar (istima'/ listening). (c) Kurangnya pemahaman guru bahasa Arab tentang kesesuaian antara materi pelajaran yang disajikan dengan metode, strategi dan pendekatan sistem yang diterapkan, hal ini berimplikasi pada tidak efektiffiya pendekatan nazriyyah al-wahdah ini digunakan dalam proses pembelajaran bahasa Arab di lapangan.

Berdasarkan latarbelakang masalah di atas, dapat dirumuskan dua rumusan masalah, yaitu: bagaimana sistematika penempan pendekatan nazriyyah al-wahdah dalam buku paket pembelajaran bahasa Arab sesuai dengan KTSP pada Madrasah-madrasah di kota Langsa?, kedua, bagaimana pemahaman guru bahasa Arab, tentang sistematika penerapan pendekatan sistem terpadu dalam buku paket pembelajaran bahasa Arab sesuai KTSP pada madrasah-madrasah di kota Langsa dan pelaksanaan serta penilaian (evaluasi)?

Lokasi penelitian ini adalah Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah Negeri di kota Langsa. Madrasah Tsanawiyah Negeri Langsa beralamatkan di Jalan A. Yani Desa Kp. Baro, Kecamatan Langsa Lama Kota Langsa, Provinsi Aceh. Madrasah ini di Negerikan pada Tanggal 25 Oktober 1993, dengan Nomor Statistik Sekolah (NSS): 1211117400011. keadaan gedung Madrasah Tsanawiyah Negeri Langsa saat ini adalah milik sendiri. Ada dua madrasah Aliyah yang negeri di Kota Langsa. Pertama, Madrasah Aliyah Negeri Kp. Teungoh Langsa beralamatkan di Jalan Islamic Center No. 7/24414 Paya Bujok Beuramoe Kecamatan Langsa Barat-Kota Langsa, Provinsi Aceh. Madrasah ini di Negerikan pada Tanggal 22 Maret 1999, dengan Nomor Statistik Madrasah (NSM): 311110372008. keadaan gedung Madrasah Aliyah Negeri Kp. Teungoh Langsa saat ini, adalah sebagian milik sendiri dan sebagian lainnya masih menumpang. Kedua, Madrasah Aliyah Negeri Langsa bertempat dan beralamat di Desa Sungai Lueng Kecamatan Langsa Timur Kota Langsa, Provinsi Aceh. Madrasah ini di Negerikan pada Tanggal 31 Mei 1980, dengan Nomor Statistik Madmsah (NSM): 311066301001. keadaan gedung Madrasah Aliyah Negeri Langsa saat ini, adalah milik sendiri.

Penelitian yang berkaitan dengan pembelajaran bahasa Arab telah banyak dilakukan, antara lain; Abd. Rajak (1993) tentang Pendekatan Pengajaran Bahasa Arab. Abdul Satar Daulay (2000) Pemikiran Muhammad Yunus Tentang Pendekatan Pembelajaran bahasa Arab. Salminawati (2004) tentang Pengaruh Penerapan Model Pengembangan Instruksional dan Latar Belakang Pendidikan Terhadap Hasil Belajar Bahasa Arab. Akan tetapi khusus penelitian mengenai Sistematika Penerapan Pendekatan Nazriyyah AI-Wahdah dalam buku paket Pembelajaran Bahasa Arab sesuai KTSP pada Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah Negeri, dalam rangka pengembangan kurikulum dan silabus bahasa Arab yang komunikatif dan efektif sesuai dengan tujuan standar kompetensi dan kompentensi dasarang ingin dicapai belum banyak ditemukan.

B.  Sistematika Pendekatan Sistem

Pemahaman sistematika pendekatan sistem adalah kebenaran asumsi umum yang bersifat mutlak atau aksiomatik (filosofis),[3] adapun sistem adalah gabungan dari berbagai komponen sebagai satu kesatuan yang utuh untuk mencapai tujuan.[4] Suatu sistem dapat menjadi supra atau subsistem dari sistem lainnya sedangkan sub sistem adalah sistem yang berada di dalam sistem. Artinya, sistem pembelajaran dapat menjadi supra dari sistem metode pembelajaran dan dapat menjadi sub sistem dari sistem madrasah.[5] Sistematika suatu sistem merupakan keterkaitan antara input, process dan out put. Input dari pembelajaran adalah berupa siswa, guru, materi dan media, process (proses) dari pembelajaran adalah kegiatan belajar mengajar dan output dari pembelajaran adalah perubahan sikap kognitif, afektif serta psikomotor dan hasil belajar peserta didik, sebagi hasil dari proses pembelajaran.[6]

Sistematika pendekatan sistem mengandung dua aspek, yaitu aspek filosofis dan aspek proses.[7]Aspek filosofis adalah pandangan hidup yang mendasari sikap perancang sistem yang terarah pada kenyataan dan aspek proses adalah suatu peoses dan suatu perangkat alat konseptual. Gagasan inti sistem filosofis ialah bahwa suatu sistem merupakan kumpulan dari sejumlah komponen, yang saling berinteraksi dan saling bergantungan satu sama lain. Untuk mengenal suatu sistem, kita harus mengenal semua komponen yang bemoperasi di dalamnya. Perubahan suatu sistem harus pula dilihat dari perubahan komponen-komponen tersebut. Tidak mungkin mengubah suatu sistem tanpa perubahan sistem secara menyeluruh.

Terdapat dua ciri sistematika pendekatan sistem pembelajaran yaitu: pertama, pendekatan sistem merupakan suatu pendapat tertentu yang mengarah kepada proses belajar mengajar. Proses belajar mengajar adalah suatu penataan yang memungkinkan guru dan siswa berinteraksi satu sama lain untuk memberikan kemudahan bagi. siswa untuk belajar. Kedua, penggunaan metodologi khusus untuk mendesain sistem pembelajaran. Metodologi khusus itu terdiri atas prosedur sistemik perencanaan, pelaksanaan dan penilaian keseluruhan proses belajar mengajar. Kegiatan tersebut diarahkan untuk mencapai tujuan-tujuan khusus dan didasarkan pada penelitian dalam belajara dan komunikasi. Penerapan metodologi tersebut akan menghasilkan suatu sistem belajar yang memamfaatkan sumber manusiawi dan nonmanusiawi secara efesien dan efektif, dengan demikian, pendekatan sistem merupakan suatu paduan dalam rangka perencaan, pelaksanaan dan penilaian pembelajaran.[8]

Ciri-ciri pendekatan sistem pembelajaran berdasarkan rumusan di atas terbagi kepada, 3 (tiga) ciri khas yang terkandung dalam sistem pembelajaran yaitu:[9]pertama, rencana penataan intensional orang, material, dan prosedur yang merupaka unsur sistem pembalajaran sesuia dengan suatu rencana khusus, sehingga tidak mengambang. Kedua, salingketergantungan (interdependent), unsur-unsur suatu sistem merupakan bagian yang koheran dalam keseluruhan, masing-masing bersifat esensial, satu sama lain saling memberikan sumbangan tertentu. Ketiga, tujuan, setiap sistem pembelajaran memiliki tujuan tertentu. Ciri itu menjadi dasar perbedaan antara sistem yang dibuat oleh manusia dan sistem-sistem alami (natural). Sistem yang dibuat oleh manusia, seperti sistem komukasi, sistem semuanya  memiliki tujuan. Sistem natural, seperti sistem ekologi, memiliki unsur-unsur yang saling ketergantungan antara yang sate dengan yang lain disusun sesuai dengan rencana tertentu, tetapi tidak mempunyai tujuan atau maksud.[10]   Tujuan pendekatan sistem menuntun proses merancang sistem. Tujuan utama sistem pembelajaran adalah siswa yang belajar. Tugas seorang perancang sistem adalah mengorganisasi orang, material, dan prosedur agar siswa belajar secara efesien. Melalui proses pendesainan sistem ini, si perancang membuat rancangan keputusan atas dasar pemberian kemudahan untuk mencapai tujuan sistem.

Jadi dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan sistematika pendekatan sistem dalam konteks pendekatan sistem pembelajaran berdasarkan pada rumusan yang telah dijelaskan sebelumnya, adalah, kebenaran asumsi umum yang bersifat mutlak atau oksiomatik (filosofis) dengan menggabungkan berbagai komponen sebagai satu kesatuan yang utuh untuk mencapai tujuaan pembelajaran dengan menggunakan metodologi khusus untuk mendesain sistem pembelajaran yang terdiri atas prosedur sistemik perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian (evaluasi) keseluruhan proses belajar mengajar, dengan mengambil satu pokok bahasan tertentu untuk dijadikan sebagai sub pokok bahasan materi pelajaran lainnya.

C.  Pendekatan sistem Nazriyyah Al-Wahdah (Teori Terpadu)

Pemahaman pendekatan (approach) yang di dalam bahasa Arab disebut al- madkhal dengan mengutip apa yang di sampaikan Edwar M. Anthony dalam buku yang ditulis oleh Azhar Arsyad dengan judul "Bahasa Arab dan Metode Pengajarannya", dijelaskan bahwa pendekatan adalah seperangkat asumsi mengenai hakekat bahasa dan hakekat belajar mengajar bahasa yang bersifat aksiomatik (filosofis).[11] Ada beberapa pendekatan sistem yang biasa digunakan dalam penerapan pendekatan nazriyyah al-wahdah dalam pembelajaran bahasa Arab, di antaranya adalah: pertama, pendekatan oural-oral, yang pada prinsipnya untuk tujuan kemahiran atau kemampuan menggunakan bahasa yang dipelajari. Kedua, pendekatan informative, yang pada prinsipnya untuk tujuan pengajaran bahasa untuk mendapat keterangan (informasi) sebanyak mungkin tentang bahasa dan bukan untuk kemampuan berbahasa. Ketiga, pendekatan integral, yang pada prinsipnya bertujuan untuk lebih dapat memadukan secara satu kesatuan unsur-unsur/materi bahasa. Keempat, pendekatan psikolonguistik, yang pada prinsipnya bertujuan untuk mengetahui pengaruh latar belakang kejiwaan peserta didik terhadap kemampuannya di dalam berbahasa.

Dalam pembelajaran bahasa Arab dikenal dua pendekatan sistem pembelajaran, yaitu pendekatan sistem terpadu/kesatuan (nazriyyah al-wahdah) dan pendekatan sistem pembelajaran bagian/cabang (nazriyyah al-furu’).[12] Pendekatan sistem kesatuan ini memandang bahasa Arab sebagai satu kesatuan yang sangat utuh. Untuk melaksanakan sistem ini dalam mengajarkan bahasa Arab hendaklah diambil satu pokok bahasan yang akan dijadikan sebagai pusat pembahasan, di mana semua cabang bahasa dikembangkan dari subjek (maudu)[13] tersebut, sehingga standar kompetensi mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis, dapat terpadu menjadi satu kesatuan di dalam mencapai kompetensi dasar yang diinginkan. Adapun materi pelajaran bahasa Arab yang dipecah-pecah dan dipisah-pisah sebagai akibat dari pendekatan informative dan metode gramatika-terjemah yang digunakan dalam pembelajaran bahasa Arab. Mata pelajaran yang terpisah-pisah ini berjalan masing-masing tanpa ada hubungan satu dengan yang lainnya.[14]

Pendekatan sistem kesatuan erat hubungannya dengan pemakaian bahasa lisan, tulisan, dan bahasa dengar yang dipraktekkan secara utuh, dengan demikian pendekatan sistem ini tidak mengenal jam-jam pelajaran tertentu dari tiap-tiap mata pelajaran  bahasa Arab seperti yang diajarkan pada sistem bagian (nazriyyah al‑ furu’).[15]

Adapun penerapan pendekatan sistem bagian ini juga memakai buku-khusus pelajaran membaca (qiraah), percakapan (muhadasah), gramatika (nahu wa sarfi, menghafal (mahfuzat), dikte (imla), mengarang (insya), sastra (balaghah), dan lainnya, tetapi semua bidang bahasa terpecah-pecah ke dalam buku-buku bahasa Arab yang khusus dan tertentu.[16]

Pelaksanaan sistem kesatuan (terpadu) sebagaimana dikemukakan di atas, dalam pembelajaran bahasa Arab, pada semua jenjang pendidikan tingkat menengah yang sedang dikembangkan di madrasah-madrsah saat ini harus didasarkan juga kepada metode dan pendekatan (al-madhkhal/lapproach), yang biasa diterapkan seperti pendekatan aural-oral, aural-oral approach. Di mana pemahaman istilah approach di sini adalah bukan sebagai pengertian pendekatan yang lazim dipahami,sebagai sekumpulan asumsi yang merupakan keyakinan axiomatik, akan tetapi sebuah rencana menyeluruh yang berhubungan dengan penyajian materi pelajaran secara teratur dan tidak saling bertentangan.

Berdasarkan dari latarbelakang di atas perlu dilakukan upaya penyesuaian pendekatan kurikulum dan buku materi pelajaran bahasa Arab serta hal lainnya diinstitusi pendidikan madrasah yang merapkan muatan bahasa Arab sebagai subjek pembelajaran.

Didasari dari pemyataan di atas, perkembangan kurikulum dan silabus bidang studi bahasa Arab, dewasa ini telah dikembangkan dan diterapkan dengan memadukan cabang-cabang materi bahasa. Arab tersebut menjadi sebuah satu kesatuan dengan sistematika penerapan pendekatan sistem terpadu yang mencakup standar kompetensi kemahiran membaca, menulis, berbicara, clan mendengar, yang ingin dicapai oleh peserta didik, clan tuntutan profesionalisme guru bahasa Arab di dalam menerapkan pendekatan sistem ini sesuai dengan materi pelajaran yang diajarkan.

Jadi istilah pendektan sistem terpadu dalam metodologi pembelajaran bahasa Arab adalah bentuk lain dari istilah nazriyyah al-wahdah (teori kesatuan) yaitu bahasa. Arab sebagai sebuah sistem memadukan keempat unsur kemahiran berbahasa yang mencakup mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis menjadi satu kesatuan yang utuh dalam proses pembelajaran, untuk mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar yang diharapkan.

Sebagaimana dipahami, bahwa pendekatan sistem bahasa Arab adalah suatu sistem dengan sub-sub sistem sebagai berikut : tata-bunyi, kosa kata, tata kalimat dan ejaan (tulisan). Sub sistem tata bunyi melahirkan materi pelajaran yang bersifat lisan seperti  khitabah, muhadasah, dan qiraah jahriyyah, Sub sistem kosa kata melahirkan materi 'ilmu sarf. sub sistem tata kalimat melahirkan materi ilmu nahu, dan sub sistem ejaan (tulisan) melahirkan materi pelajaran khat, imla' dan insya' rahriri. Untuk pemahaman bacaan dan penambahan kosa kata akan timbul materi rnutala'ah dan untuk pemahaman arti kata, kalimat, perumpamaan (tasybih), arti haqiqi dan majaziy, segi-segi keindahan dan gaya bahasa maka lahirlah 'ulum al‑ balaqah yang mencakup ‘ulum al-ma’ni,’ulum al Bayan dan ‘ulum al badi’ serta penggabungan ‘ulum al-sarf’ dan nahu akan melahirkan materi al qawa’id (gramatika).[17]

Demikianlah materi pelajaran bahasa Arab dipecah-pecah dan dipisah-pisah sebagai akibat dari Informative Approach dan Metode Gramatika Tarjamah. Mata pelajaran yang terpisah-pisah ini bedalan masing-masing tanpa ada hubungan satu dengan yang lain. Akibat dari itu guru yang mengajarkan bahasa, Arab juga diperlukan banyak menurut banyaknya mata pelajaran tersebut, sehingga ada guru nahu dan sarf, guru mutala'ah atau qiraah, guru muhadasah, guru khat dan imla', dan guru balagah. Para guru itu melakukan tugasnya masing-masing tanpa ada hubungan yang koordinatif, dari itulah maka pada umumnya kurang dipahami bahwa bahasa Arab adalah suatu sistem dengan sub-sub sistem yang secara fungsi dapat dibagi-bagi tetapi satu dengan yang lain berkaitan dan membentuk satu kesatuan yaitu bahasa Arab sebagai suatu kesatuan.

Dengan demikian dalam pengajaran bahasa Arab sebagai suatu sistem terpadu, apabila salah satu sub sistem tidak atau kurang diajarkan sebagaimana mestinya, maka hasil dari pengajaran tersebut tentunya tidak memuaskan. Misalnya sub sistem tata bunyi tidak mendapat perhatian untuk diajarkan. Hal tersebut pasti akan menghambat kemahiran menyimak sehingga tidak mampu menangkap dan memahami pembicaraan orang lain dalam bahasa Arab, dan akan pula menghambat kemahiran berbicara sehingga tidak mampu bercakap-cakap, berdialog dan mengutarakan pikiran serta perasaan dalam bahasa Arab. Begitu pula halnya bila sub sistem tata kalimat tidak mendapat perhatian, akan menghambat kemahiran berbicara dan manulis sehingga tidak mampu mengutarakan pikiran dan perasaan dengan bahasa yang benar dan baik, atau tidak mampu memahami pembicaraan dan tulisan orang lain.[18]

Jadi sub-sub sistem itu seperti telah dikemukakan merupakan bagian-bagian yang semuanya penting dan saling berkaitan sehingga bila salah satu sub sistem tidak terbina dalam pengajaran,maka tujuan menguasai bahasa tidak mungkin berhasil dengan baik, karena pengajaran suatu sub sistem seperti nahu dan sarf (qawa’id) misalnya hanyalah memungkinkan pelajaran bahasa hanya menguasai sub sistem tersebut.[19]

Menurut pengamatan peneliti, bahwa kurang berhasilnya pengajaran bahasa Arab di madrasah-madrasah selama ini diantaranya disebabkan oleh terpakunya pada penerapan pendekatan metode gramatika-tarjamah yang membawa akibat pada: (1) mata pelajaran bahasa Arab menjadi terpisah-pisah sejak permulaan mempelajari bahasa Arab, dan tidak menceminkan bahasa sebagai suatu sistem, sehingga karena itu dalam pelaksanaan pengajarannya tidak terdapat hubungan yang erat antara satu mata pelajaran dengan yang lainnya. (2) Salah satu bagian yang penting yaitu sub sistem tata bunyi sebagai landasan kemahiran menyimak dan berbicara kurang mendapat perhatian, karena itu tidak mengherankan kalau akibat dari itu banyak orang yang sudah lama mempelajari bahasa Arab tetapi kurang memiliki kemahiran mengutarakan pikiran dan perasaan secara lisan atau tulisan, dengan kata lain kurang memiliki kemampuan untuk menggunakan bahasa Arab secara aktif dan efektif.

Penting diketahui pula bahwa sistem terpadu ini tidak lagi menekankan pengajaran kepada pengetahuan tentang bahasa, akan tetapi penekanannya pada kemampuan menggunakan bahasa, baik secara lisan maupun tulisan. Pelaksanaan pengajaran kemampuan tersebut terutama untuk tingkat dasar dan tingkat menengah. Untuk mencapai tujuan dari nazriyyah al-wahdah ini dengan hasil baik, diperlukan pendekatan dan metode yang kini cukup dikenal bagi pengajaran bahasa Arab, yaitu suatu metode yang dinamakan aural-oral approach.[20]

D.  Pendekatan Sistem Terpadu dan KTSP dalam Pembelajaran Bahasa Arab di Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah Negeri Kota Langsa

Sistematika pembelajaran bahasa Arab di Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah Negeri kota Langsa merujuk pada pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Garis-Garis Besar Program Pengajaran (GBPP) bidang studi bahasa Arab tingkat Tsanawiyah dan Aliyah serta pengembangan silabus yang diaplikasikan dalam bentuk standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator, penilaian, alokasi waktu dan sumber bahan/alat.[21]

Kurikulum dan sistem pembelajaran bahasa Arab pada Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah Negeri Langsa mencakup: pertama, tujuan pembelajaran bahasa Arab. Tujuan pembelajaran bahasa Arab di Madrasah Tsanawiyah sistematis Aliyah Negeri Langsa ini adalah, agar peserta didik menguasai secara aktif dan pasif terhadap kekayaan kosa kata (mufradat), dan tata bahasa serta idiomatik yang disusun dalam berbagai struktur kalimat (tarkib al-kalimah) serta pola kalimat sempurna (jumlah al-mufradah) yang diprogramkan, sehingga dapat dipergunakan sebagai alat komunikasi sistematis memahami teks-teks Arab.[22] Hal ini juga sesuai dengan tujuan pengembangan Kurikulum Tingkat Sataun Pendidikan dan pengembangan silabus bahasa Arab aspek kemahiran berbahasa mendengarkan, berbicara, membaca sistematis menulis.[23] Kedua, materi pelajaran bahasa Arab. Sistem penyajian materi pelajaran bahasa Arab di Madrasah-madrasah ini adalah dengan menerapkan pendekatan nazriyyah al-wahdah, dalam menjabarkan materi-materi pelajaran bahasa Arab menjadi sebuah sato kesataun yang tidak terpisah-pisah, berbeda dengan penerapan pendekatan nazriyyah al-furu' yang penjabaran materi pelajaran bahasa Arabnya disajikan dengan terpisah-pisah bagian-bagian (cabang).

Sistem penyajian materi pelajaran bahasa Arab dengan pendekatan sistem terpadu adalah upaya penguasaan satu pokok bahasan yang meliputi bacaan (qira'ah), pemaknaan kosa kata (fahm al-mufradat), tata bahasa (qawaid), percakapan, (al-Hiwar), menulis (al-Kitabah) berupa insya' dan imla', latihan (tamrinat) dan mendengar (istima ) secara utuh dan bersamaan tidak terpisah-pisah dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran bahasa Arab terhadap aspek kemahiran mendengar, berbicara, membaca sistematis menulis sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik. Materi pelajaran bahasa Arab yang keberadaannya terpisah-pisah, yaitu materi dalam mutala'ah, muhadasah, qawaid, imla', mahfuzat, balaghah dan'adab.[24]

Adapun materi pelajaran bahasa Arab secara umum yang sedang diterapkan di Madrasah-madrasah saat ini adalah materi pelajaran yang mengacu pada pengembangan silabus sistematis Kurikulum Tingkat Sataun Pendidikan serta penyajiannya berdasarkan pada pendekatan sistem terpadu (satu kesataun) yang meliputi:

1.    Istima' (mendengar)

Penerapan istima' dalam pembelajaran bahasa Arab di Madrasah-madrasah ini, adalah latihan kemahiran untuk menyimak atau mendengar yang akan dapat dicapai dengan latihan-latihan mendengarkan perbedaan bunyi unsur kata (fonem) dengan unsur kata lainnya menurut makhra huruf yang benar, baik langsung dari penutur asli (native speaker) dalam hal ini seorang pengajar bahasa Arab ataupun melalui rekaman kaset, laboratorium bahasa dan lainnya, baik unsur kata yang terpisah dari pemahaman arti maupun bunyi kata dan kalimat dengan pemahaman arti yang terkandung di dalamnya. Tujuan dari pembelajaran istima' adalah: agar siswa dapat mebedakan bunyi-bunyi huruf Arab, agar siswa terlatih untuk dapat menangkap pesan/pokok pikiran dari tulisan teks-teks Arab yang didengarnya, agar siswa dapat memahami pesan/ide yang disampaikan oleh pembicara asli (native speaker) baik makna tersurat (tekstual) ataupun tersirat (kontekstual), dan agar siswa terlatih untuk menyimpulkan pokok-pokok pikiran secara kritis dari suatu pembicaraan yang didengarnya.

2.    Muhadasah (percakapan)

Materi muhadasah yang diberikan kepada siswa, untuk tujuan agar siswa mampu bercakap-cakap dengar menggunakan bahasa Arab dalam pernbicaraannya sehari-hari, sehingga dengan kemampuan tersebut, dapat memudahkan siswa untuk berkomukasi antara satu dengan lainnya dengan menggunakan bahasa Arab yang baik dan benar.

Pembelajaran bahasa Arab melalui materi percakapan ini terjadi antara guru dengan siswa atau antara siswa dengan siswa. Materi percakapan ini memanfaatkan kosa kata yang ada pada wacana bacaan berdasarkan pedoman percakapan sistematis merupakan latihan bagi siswa untuk bagaimana supaya caranya meng-ungkapkan pikiran dan perasaannya secara lisan kepada orang lain. Aplikasi dari materi pelajaran ini siswa diarahkan untuk tanya jawab berdasarkan pokok bahasan yang telah ditentukan dalam percakapan. Penerapan sistem pembelajaran percakapan (muhadasah) mencakup:

a.       Mempersiapkan bahan pelajaran (pokok bahasan) dan di tuangkan dalam rencana pembelajaran;

b.      Menyesuaikan bahan pelajaran dengan kemampuan berbahasa siswa, terutama kora kata (mufradat) yang telah dihafal siswa;

c.       Menggunakan alat bantu pengajaran yang langsung dapat dijadikan sebagai objek pembicaraan;

d.      Terlebih dahulu menerangkan arti kata-kata yang dipergunakan dalam percakapan dan siswa diminta untuk mempraktekkannya, sementara siswa lainnya menyimak dan memperhatikan sebelum mendapat giliran;

e.       Setelah pereakapan selesai dilaksanakan, kemudian guru membuka forum tanya jawab untuk mendiskusikan pelaksanaan muhadasah yang baru selesai.

3.    Qira'ah (bacaan)

Qira'ah adalah wacana bacaan, baik yang dibaca maupun dalam hati. Membaca merupakan bagian yang penting dalam pelajaran bahasa Arab, sebab kalimat-kalimat yang dikembangkan dalam bagian ini adalah kata-kata yang telah dikemukakan sebelumnya dalam mufradat baik dalam bentuk kata benda (isim), kata kerja (fi'il) dan kata selain isim dan fi'il yaitu (harf). Materi yang disajikan adalah fakta yang disesuaikan dengan kernampuan siswa, sehingga menumbuhkan minat belajar. Bagian ini sebagai latihan membentuk keterampilan membaca dan menterjemahkan dari bahasa Arab kedalam bahasa sehari-hari peserta didik. Melalui materi bacaan ini, diharapkan peserta didik dapat mengucapkan kata dan kalimat bahasa Arab dengan fasih, lancar dan benar, sebab kesalahan dalam mengucapkan huruf-huruf Arab sistematis tanda baca mengakibatkan kesalahan arti yang dimaksudkan.

4.    Qawaid (tato bahasa)

Qawaid adalah aturan-aturan tentang ketentuan bahasa. baik yang berkenaan dengan masalah al-sarfiyyah maupun al-nahwiiyah. Penggunaan qawaid dalam pembelajaraan bahasa Arab di Madrasah ini telah dapat memudahkan siswa itu sendiri dalam mempelajari materi pelajaran bahasa Arab, sehingga tidak terkesan bahwa bahasa Arab itu adalah pelajaran yang dianggap sukar/sulit. Penerapan sistem pembelajaran qawaid di Madrasah-madrasah adalah: Al-Qawaid diajarkan dengan cara induktif, yaitu materi qawaid diambil dari balm bacaan dalam pembelajaran qiraah, kemudian diuraikan segi-segi tata bahasanya baik yang mengenai nahu ataupun sarf -nya; memberikan contoh-contoh kemudian disusunan dari kata-kata sehingga menjadi sebuah kalimat yang sempurna; dan kemudian menarik kesimpulan (istimbat) dari contoh-contoh tersebut, sehingga menjadi sebuah kaidah qawaid tertentu.

5.    Insya ' (karangan)

Insy,a' adalah kemahiran menulis dengan menyuruh siswa mengarang dalam bahasa Arab yang berhubungan dengan ungkapan isi hati, pikiran. perasaan dan pengalaman yang dimilikinya. Melalui cara ini diharapkan sisvva dapat mengembangkan daN imajinasinya secara kreatif dan produktif sehingga pemikiran, siswa menjadi berkembang. Penerapan sistem pembelajaran insya' di Madrasah adalah:

a.       Menyesuaikan bahan pelajaran dengan taraf kemampuan berbahasa siswa;

b.      Materi pelajaran insya' diberikan untuk pembentukan kalimat berdasarkan kosa kata yang telah dikuasainya sehingga menjadi sebuah kalimat sempurna yang sederhana;

c.       Pembelajaran insya’ dilakukan guru dengan mengarahkan siswa untuk mampu membuat kalimat-kalimat yang sempuma dan mengandung pengertian yang utuh;

d.      Pembelajaran insya' dilakukan dengan menentukan topik sistematis tema pelajaran insya’

e.       Guru memperbaiki kesalahan yang terdapat dalam kalimat insya'

f.       Guru mengakhiri pembelajaran dengan memberikan petunjuk yang berguna bagi siswa.

E.  Sistematika Perencanaan, Pelaksanaan dan Penilaian (Evaluasi) Pembelajaran Bahasa Arab Sesuai KTSP

Sistematika penerapan pendekatan nazriyyah al-wahdah dalam pembelajaran bahasa Arab pada Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah Negeri di kota Langsa yang terdiri atas prosedur sistemik perencanaan (planning), pelaksanaan (processing), dan penilaian (evaluating) adalah merupakan keseluruhan dari pada proses pelaksanaan pembelajaran.

Unsur-unsur yang menjadi indikator penelitian dari sistematika penerapan pendekatan -nazriyyah al-wahdah dalam pembelajaran bahasa Arab oleh para guru (pengajar) di Madrasah-madrasah meliputi:

a.       Kualifikasi pedidikan para pengajar bahasa Arab;

b.      Rentang waktu mengajar bahasa Arab;

c.       Pemahaman tentang hakekat bahasa, apakah bahasa itu yang didengar lalu diucapkan atau apa yang dibaca sistematis ditulis kemudian dipahami;.

d.      Tingkat kemampuan berbahasa Arab siswa yang diinginkan, serta faktor latar belakang pendidikan peserta didik;

e.       Pendekatan sistem yang diterapkan;

f.       Langkah-langkah pembelajaran bahasa Arab dengan penerapan pendekatan nazriyyah al-wahdah;

g.      Penggunaan media pembelajaran dalam rangka penerapan pendekatan nazriyyah al-wahdah dalam pembelajaran bahasa Arab;

h.      Pemahaman pengeetahuan guru bahasa arab tentang istilah pendekatan nazriyyah al-wahdah itu sendiri;

i.        Pemahaman guru tentang sistematika pembelajaran bahasa Arab yang meliputi perencanaan, pelaksananaan dan penilaian (evaluasi).

Berdasarkan hasil penelitian yang peneliti lakukan, guru bahasa Arab Madrasah Stanawiyah maupun Aliyah harus memiliki kemampuan dalam: kompetensi profesional, yang dimaksud dengan kemampuan profesional adalah setiap pengajar di madrasah harus memiliki pengetahuan yang luas tentang bidang studi (subject matter) yang diajarkan. Artinya, seseorang guru harus menguasai materi pelajaran yang akan diajarkan kepada para peserta didik. Kedua, kompetensi personal. Kompetensi personal yang dimaksud adalah sikap kepribadian seorang guru, sehingga dapat menjadi suritauladan bagi peserta didik dan Iingkungan Madrasah dimana dia melaksanakan proses pembelajaran. Ketiga, kompetensi social. Kompetensi sosial yang dimaksud adalah kemampuan seorang guru untuk berkomunikasi kepada peserta didiknya, teman seprofesinya. pimpinan (kepala madrasah), pegawai tata usaha maupun dengan anggota masyarakatnya.

Sistematika penerapan pendekatan nazriyyah al-wahdah dalam pembelajaran bahasa Arab dalam upaya pengembangan kemampuan metodologi pembelajaran oleh guru bahasa Arab menunjukkan hasil yang belum maksimal. Hal ini dapat dilihat dari kurangnya pemahaman guru tentang pendekatan sistem pembelajaran bahasa Arab yang diterapkan guru bahasa Arab pada madrasah Tsanawiyah dan Aliyah Negeri Langsa ini.

Dari pendekatan sistem pembelajaran nazriyyah al-wahdah, dapat dikemukakan bahwa, para guru bahasa Arab di Madrasah-madrasah Stanawiyah dan Aliyah di Kota Langsa belum melaksanakan hal tersebut dengan baik, indikatornya adalah belum terealisasikannya teori kesataun dalam pembelajaran bahasa Arab, yaitu dengan cara menyajikan materi pelajaran membaca, berbicara, menterjemahkan, tata bahasa, mengarang, dikte dan mendengar dalam satu kesataun. Artinya setiap pokok bahasan diajarkan dengan pendekatan sistem terpadu, baik pelajaran membaca, berbicara, menulis dan mendengar teks-teks Arab untuk mencapai hasil belajar yang tuntas.

Keseluruhan guru bahasa Arab di Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah Negeri Langsa beranggapan bahwa pembelajaran bahasa adalah apa yang didengar dari bacaan dan pembicaraan sehingga pembelajaran bahasa yang utama adalah mendengar dan bercakap, dengan demikian pemahaman guru tentang bahasa Arab dan apa yang harus menjadi prioritas dalam pembelajaran telah relevan dengan tujuan pembelajaran bahasa Arab di madrasah-madrasah berdasarkan Garis-Garis Besar Program Pembelajaran dalam pengembangan Kurikulum Tingkat Sataun Pendidikan saat ini.

Penerapan pendekatan sistem terpadu oleh guru bahasa Arab dapat menumbuhkan atau mematikan minat belajar bahasa Arab siswa. Pendekatan sistem dapat berperan sebagai motivator jika siswa dapat terfokus minatnya pada bahan pelajaran yang disajikan guru. Sebagian besar siswa Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah Negeri Langsa, memiliki minat yang besar terhadap pelajaran bahasa Arab, walaupun ada siswa kurang berminat dan selebihnya tidak berminat pada pelajaran bahasa Arab. Siswa yang menyatakan minatnya pada pelajaran bahasa Arab memberikan alasan bahwa guru bahasa Arab pandai mengajar, sehingga pelajaran bahasa Arab mudah dipahami dan dipelajari, sedangkan diantara sebagian kecil siswa yang menyatakan tidak berminat tehadap pelajaran bahasa Arab disebabkan pelajaran bahasa Arab tergolong sulit dan guru bahasa Arab kurang pandai mengajar.[25]

Berdasarkan deskripsi data penelitian tentang sistematika penerapan pendekatan nazriyyah al-wahdah dalam pembelajaran bahasa Arab yang diterapkan guru Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah Negeri Langsa telah sesuai dengan prinsip­prinsip dan langkah-langkah yang disyaratkan dalam pengembangan silabus dan kurikulum tingkat sataun pendidikan, indikatornya adalah pemahaman guru terhadap, metodologi pembelajaran bahasa Arab belum maksimal. Keberadaan media pembelajaran bahasa Arab, khususnya laboratorium bahasa, belum maksimal dimanfaatkan oleh guru-guru bahasa Arab pada Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah Negeri Langsa, akan tetapi lebih mengutamakan buku paket pelajaran bahasa Arab sebagai media pembelajaran yang aktif serta sosok guru itu sendiri sebagai media pembelajaran yang digunakan sebagai alat bantu didalam meningkatkan kemampuan peserta didik untuk menguasai keterampilan berbahasa secara tuntas.

a.    Perencanaan Sistem Pembelajaran Bahasa Arab Sesuai KTSP

Perencanaan pembelajaran merupakan langkah penting untuk mencapai keberhasilan pembelajaran. Apabila rencana pembelajaran yang disusun oleh para guru bahasa Arab itu baik sistematis, maka akan menjadikan tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif sistematis efesien, oleh sebab itu, perencanaan pembelajaran bagi guru bahasa Arab di Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah Negeri Langsa memiliki beberapa manfaat, yaitu: pertama, perencanaan pembelajaran dapat dijadikan alat untuk menemukan dan memecahkan masalah, kedua, perencanaan pembelajaran dapat mengarahkan proses pembelajaran. Ketiga, perencanaan pembelajaran dapat dijadikan dasar dalam memanfaatkan sumber daya secara efektif, dan keempat, perencanaan pembelajaran dapat dijadikan alat untuk memprediksi hasil yang akan datang.

Perencanaan pembelajaran dengan pendekatan sistem berarti penyusunan perencanaan pembelajaran di dasarkan pada berbagai hal yang saling terkait. Pendekatan sistem dapat digunakan sebagai landasan berpikir mulai dari input, process dan output. Input (masukan) dari pembelajaran berupa peserta didik, guru, materi dan media, process (proses) pembelajaran berupa aktivitas (kegiatan) pembelajaran, sedangkan output (keluaran) dari pembelajaran berupa perubahan diri dari peserta didik sebagai hasil dari proses pembelajaran.

Perencanaan pembelajaran yang disusun oleh para guru bahasa arab di Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah Negeri Langsa, dituangkan dalam perangkat perencanaan pembelajaran, adapun perangkat perencanaan pembelajaran yang perlu di pahami dan dimiliki guru bahasa Arab minimalnya meliputi; silabi dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP).

Adapun langkah-langkah pokok dalam pengembangan silabus bahasa Arab berbasis/kompetensi kemahiran berbahasa yang sesuai dengan format silabus dan Kurikulurn Tingkat Sataun Pendidikan yang diterapkan di Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah Negeri Langsa memuat komponen-komponen sebagai berikut: pertama, standar kompetensi. Standar kompetensi mata pelajaran bahasa Arab adalah bagian dari kompetensi lulusan, yakni batas dan arah kemampuan yang harus dimiliki dan dapat dilakukan oleh peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran bahasa Arab. Standar kompetensi dapat dirumuskan oleh para guru bahasa Arab Madrasah­-madrasah ini dengan menggunakan kata kerja yang operasional dan yang non-­operasional tergantung dari karakteristik mata pelajaran bahasa Arab itu sendiri serta cakupan materinya. Kedua, kompetensi dasar. Dilihat dari cakupan materi bahasa Arab dan kata kerja yang digunakan, standar kompetensi masih bersifat umum, sehingga perlu dijabarkan menjadi sejumlah kompetensi dasar, yaitu kemampuan minimal pada tiap mata pelajaran bahasa Arab yang harus dicapai peserta didik. Cakupan materi bahasa Arab pada kompetensi dasar lebih sempit dibanding pada standar kompetensi.

Ketiga, indicator. Indikator adalah gambaran tahapan dalam pencapaian kompetensi tersebut, dan juga merupakan penanda pencapaian kompetensi dasar yang ditandai oleh perubahan prilaku peserta didik yang dapat diukur. Cakupan prilaku tersebut meliputi sikap, pengetahuan, sistematis keterampilan. Keempat, materi pokok pembelajaran. Materi pokok atau materi pembelajaran adalah pokok-pokok materi pelajaran bahasa Arab yang harus dipelajari peserta didik sebagai sarana pencapaian kompetensi dasar sistematis yang akan dinilai dengan menggunakan instrument penilaian yang disusun berdasarkan indikator pencapaian belajar. Secara umum materi pokok atau materi pembelajaran bahasa Arab yang disajikan harus sesuai dengan tahap perkembangan peserta didik. Kelima, kegiatan pembelajaran. Pemberian kegiatan pembelajaran merupakan strategi belajar mengajar yang dipandang baik. Kegiatan pembelajaran adalah kegiatan fisik maupun mental yang perlu dilakukan oleh peserta didik bahasa. Arab dalam berinteraksi dengan obyek belajar untuk menguasai kompetensi dasar dan materi pembelajaran. Kegiatan pembelajaran adalah interaksi peserta didik dengan gurunya.

Keenam, alokasi waktu. Dalam mengalokasikan waktu, guru bahasa Arab perlu memperhatikan jumlah jam pelajaran untuk setiap semesternya melalui kalender akademik. Matapelajaran bahasa Arab di Madrasah Tsanawiyah Negeri Langsa memiliki 4 jam pelajaran perminggu berarti dalam setiap semesternya tersedia waktu 4 x 18 = 72 jam pelajaran, dengan 1 jam pelajaran (JP) adalah 35 menit pertatap muka. Di madrasah Aliyah Negeri Langsa matapelajaran bahasa Arab memiliki 2 jam pelajaran perminggu berarti dalam setiap semesternya tersedia waktu 2 x 18 = 36 jam pelajaran dengan 1 jam pelajaran (JP) adalah 40 menit pertatap muka. Ketujuh, sumber bahan. Bagi guru bahasa Arab di Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah Negeri Langsa sumber bahan utama dalam menyusun silabus adalah buku pelajaran bahasa Arab karangan D. Hidayat sesuai Kurikulum Tingkat Sataun Pendidikan (KTSP), begitu juga sumber bahan yang digunakan dalam proses belajar mengajar. Delapan, penilaian. Penilaian pencapaian kompetensi dasar pembelajaran bahasa Arab peserta didik dilakukan berdasarkan indikator. Penilaian tersebut dilakukan dengan menggunakan tes dan non tes dalam bentuk tertulis maupun lisan, pengamatan kerja, pengukuran sikap, penilaian hasil karya berupa tugas, penggunaan portofolio, sistematis penilaian diri.

b.   Pelaksanaan Sistem Pembelajaran Bahasa Arab Sesuai KTSP

Pelaksanaan pembelajaran bahasa Arab pada hakikatnya adalah proses komunikasi bahasa lisan atau tulisan, di mana guru berperan sebagai komunikator, fasilitator, supervisor sistematis motivator, sedangkan peserta didik berperan sebagai komunikan. Sebagai pelaksana proses komunikasi, guru bahasa perlu memperhatikan komunikasi verbal, yaitu komunikasi yang dilakukan dengan mengucapkan kata­kata, adapun komunikasi non verbal adalah komunikasi dimana guru bahasa perlu memperhatikan berbagai hal yang terdapat dalam dirinya, baik penampilan sikap, maupun tindakannya yang menjadi pesan terhadap apa yang akan dipersepsikan oleh peserta didik.

Pembelajaran bahasa Arab dengan pendekatan sistem terpadu yang diterapkan oleh guru bahasa Arab pada Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah Negeri  Langsa, menunjukkan bahwa materi sistematis buku paket pelajaran bahasa Arab pada Madrasah-madrasah ini sesuai dengan tuntutan Kurikulurn Tingkat Sataun Pendidikan yang ditulis oleh D. Hidayat dalam bukunya "Ta`lim al-Lugah al- `Arabiyyah " (Pelajaran Bahasa Arab) untuk madrasah Tsanawiyah dan Aliyah.[26]

Teknik pelaksanaan pembelajaran bahasa Arab dengan pendekatan sistem terpadu yang diterapkan oleh para guru madrasah-madrasah berdasarkan pada hasil pengamatan peneliti di lapangan menunjukkan bahwa setiap materi pelajaran bahasa Arab yang memiliki standar kompetensi (mendengar, berbicara, membaca dan menulis) diwujudkan dalam empat komponen yang saling berkaitan (nazriyyah al-wahdah). Artinya sesuai dengan tuntutan pengembangan kurikulum saat ini, setiap bahasan (maudu-' al-dars) dalam pelaksanaan pembelajaran bahasa Arab diterapkan untuk mencapai satu kompetensi dasar tertentu yang meliputi lima materi pokok dalam bentuk satu kesataun (terpadu) yang tidak dapat dipisah-pisahkan.

Materi pokok tersebut meliputi, Pertama, ai-qira’ah yang dimulai dengan pemahaman mufradat baru dan diakhiri dengan latihan memantapkan bacaan sistematis pembahasan serta terjemahan. Kedua, al-qawaid yang menjelaskan bentuk sharaf dan sftuktur nahwu yang telah dikenalkan dari dalam bagian qiraah, dan hiwar dalam bentuk latihan pemahaman qawa’id (AI-Tadribb `ala AI-Qawa’id). Ketiga, al-hiwar berupa percakapan (perbincangan) tentang tema qiraah yang ada pada wacana materi pelajaran dalam bentuk latihan atas percakapan (Al-Tadrib `ala Al-Hiwar ). Keempat, aI-insya berupa latihan menulis (Al-Kitabah) dalam bentuk karangan terbimbing (insya "al-muwajjah), dan latihannya dalam bentuk latihan menulis karangan (Al­Tadrib `ala kitabah Al- Insya'). Keliama, aI-istima' adalah lathan mendengar atau menyimak nusus al-masm’uah yang didengar oleh peserta didik dari materi qira'ah hiwar, mufradat jadidah, tarkib al-kalimah berupa ujaran tata bunyi bahasa Arab dan makhraj huruf al-'arabiyyah, batik langsung dari pembicara asli (guru bahasa Arab) maupun dengan menggunakan media pembelajaran istima' lainnya.

c.    Tinjauan Penilaian (Evaluasi) Sistem Pembelajaran Bahasa Arab Sesuai KTSP

Penilaian pembelajaran oleh para guru bahasa Arab di Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah Negeri Langsa dilaksanakan untuk mencapai standar kompetensi (mendengar, berbicara, membaca dan menulis). Penilaian selanjutnya ditujukan pada pencapaian kompetensi dasar peserta didik yang dilakukan berdasarkan indikator pencapaian. Penilaian pembelajaran bahasa Arab dilaksanakan dengan menggunakan tes dan non tes dalam bentuk tertulis maupun lisan, pengamatan kerja, pengukuran sikap, penilaian hasil karya berupa tugas, penggunaan portofolio dan penilaian diri. Setiap kompetensi dasar dan indikator sudah mencerminkan alai penilaian yang akan digunakan, dan indikator dari satu kompetensi dasar dapat juga sebagai alat ukur bagi kompetensi dasar lainnya terutama pada penilaian berbasis kelas.

Pelaksanaan penilaian pembelajaran bahasa Arab dengan pendekatan sistem terpadu yang dilaksanakan oleh guru bahasa Arab pada Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah Negeri Langsa, mendeskripsikan bahwa penilaian pembelajaran bahasa Arab di Madrasah-madrasah inidilaksanakan dalam bentuk tes ujian tertulis (al-imtihan at­tahririy) dan tes ujian lisan (al-imtihan asy-syafahiy). Hal ini sesuai dengan apa yang dijelaskan Anas Sudijono dalam bukunya, Pengantar Evaluasi Pendidikan, memberi penjelasan, bahwa : "ditinjau dari segi cara mengajukan pertanyaan dan cara memberikan jawabannya, tes dapat dibedakan menjadi dua golongan, yaitu tes tertulis (pencil and paper test), dan tes lisan (nonpencil and paper test).[27]

Fungsi dan tujuan tes hasil belajar secara umum yang dilaksanakan oleh guru Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah Negeri Langsa memiliki dua macam pencapaian. Pertama, sebagai alat ukur bagi peserta didik. Dalam hubungan ini tes berfungsi mengukur tingkat perkembangan dan keberhasilan hasil belajar yang telah dicapai oleh peserta didik. Setelah mereka menempuh proses belajar mengajar bahasa Arab dalam jangka waktu tertentu. Kedua, sebagai alat ukur keberhasilan perencanaan sistematis pelaksanaan pembelajaran bahasa Arab, sebab melalui tes tersebut akan dapat diketahui sudah seberapa jauh perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran tersebut mencapai ketuntasan hasil belajar yang diinginkan oleh pengajar (guru).

Berdasarkan pada hasil analisa yang dilakukan, bahwa penilaian pembelajaran bahasa Arab melalui bentuk tes lisan[28] dan tes tertulis memiliki beberapa kebaikan/kelebihan dan kekurangan, yaitu: kelebihan tes lisan di antaranya, adalah: guru dapat menilai kepribadian dan isi pengetahuan peserta didik secara tepat; jika peserta didik tidak memahami pertanyaan, seorang guru dapat mengubah atau menjelaskan pertanyaan tersebut sehingga peserta didik dapat memahami pertanyaan tersebut. Kekurangan tes lisan, di antaranya adalah: hubungan pribadi antara guru dengan peserta didik dapat mengganggu objektivitas hasil tes; sikap gugup atau tidak percara diri pada peserta didik dapat mengganggu jawaban; dan pertanyaan yang diajukan tidak selalu sama pada tiap-tiap peserta didik.

Adapun kelebihan dari tes tertulis di antaranya adalah: lebih memungkinkannya materi pelajaran yang diberikan guru dapat disajikan secara representatif yang nantinya akan diujikan mewakili semua bahan yang diberikan;  dan lebih mudah dan cepat dalam mengkoreksinya, karena kunci jawaban telah tersedia. Sedangkan kekurangan dari tes tertulis di antaranya adalah; pembuatan soal tes ini memakan waktu cukup lama dan memerlukan pemikiran yang cukup cermat dan matang; dapat memberi peluang yang besar bagi peserta didik untuk berfikir spekulatif (menebak-nebak) soal terhadap alternatif jaw-Am yang masih samar-samar, dan kurang mendidik peserta didik untuk berfikir secara kritis (nalar), karena peserta didik digiring kepada pilihan jawaban yang mengikat.

Tes tulisan dalam penilaian pembelajaran bahasa Arab yang sering diterapkan di madrasah Tsanawiyah dan Aliyah Negeri Langsa, memiliki beberapa bentuk, diantaranya adalah: tes pilihan berganda (al-ikhtiyar al-mutaaddid), tes benar-salah (sahih aw khata), tes isian (imla'al-farag), tes menjodohkan (al-mul'amah), tes menguraikan kalimat ('irab al-kalimah), tes memberi harakah (syakl al-kalimah).

Pelaksanaan penilaian pembelajaran bahasa Arab di madarasah ini diarahkan untuk menilai semua aspek yang meliputi aspek pengetahuan (kognitif), aspek sikap (afektif), dan aspek keterampilan (psikomotorik). Ketiga aspek tersebut harus dinilai secara proporsional sesuai dengan masing-masing materi pelajaran dengan mengembangkan aspek keterampilan berbahasa yang meliputi kemahiran mendengar, berbicara, membaca dan menulis.

Dalam kurikulum Tingkat Sataun Pendidikan pengembangan indikator instrumen didasarkan pada kompetensi dasar untuk masing-masing aspek yang hendak dikuasai oleh peserta didik. Tiap kompetensi dasar dapat dijabarkan menjadi 3 atau lebih indikator. Setiap indikator dapat dibuat menjadi 3 butir soal atau lebih. Artinya pengembangan indikator dan penentuan soal ujian yang dilakukan oleh para guru bahasa Arab adalah untuk mengembangkan kompetensi dasar untuk menjadi sejumlah indikator dan indikator tersebut menjadi sejumlah instrumen soal ujian. Soal ujian itu dijadikan sebagai tes lisan atau tes tulisan.

Dari hasil penelitian yang dilakukan peneliti, bahwa ada banyak teknik tes yang telah dilakukan dalam rangka penilaian pembelajaran kemahiran berbahasa Arab pada Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah Negeri Langsa. Adapun tehnik-tehnik tes tersebut adalah; menjawab pertanyaan kosa kata (mufradat), menjawab pertanyaan, menjawab pertanyan (wacana), merumuskan inti wacana, menceritakan kembali, membedakan phonem, statement dan dialog, dan memahami percakapan dan wacana.

            Berikut kisi-kisi penilaian pembelajaran mendengar, berbicara, membaca dan menulis;

No
   

K I S I – K I S I
   

Persentase

1
   

Mengenal fonem
   

5%

2
   

Membedakan fonem
   

10%

3
   

Membedakan kata atau frase yang berbeda satu fonem
   

15%

4
   

Memahami makna kata atau frase lepas
   

5%

5
   

Memahami makna kalimat lepas
   

50%

6
   

Memahami makna wacana singkat
   

10    %

F.   Kesimpulan

Dari hasi penjelasan di atas dapat diambil dua kesimpulan, yaitu; pertama, sistematika penerapan pendekatan nazriyyah al-wahdah dalam buku paket pembelajaran bahasa Arab sesuai KTSP pada madrasah Tsanawiyah dan Aliyah Negeri Langsa diarahkan dan ditujukan untuk penguatan, penguasaan dan pengembangan. Kemahiran berbahasa yang meliputi aspek mendengar (al-istima), berbicara (al-hiwar), membaca (al-qira'ah) dan menulis (al-kitabah), yang disajikan secara terpadu (satu kesatuan) dan tidak terpisah-pisah.

Kedua, pemahaman guru tentang sistematika penerapan pendekatan sistem terpadu dalam buku paket pembelajaran bahasa Arab sesuai KTSP adalah bahwa pembelajaran bahasa Arab harus diajarkan secara satu-kesatuan (terpadu) tidak dipisah-pisahkan dalam proses pembelajarannya seperti pada pendekatan sistem bagian (cabang) belum maksimal. Pendekatan sistem terpadu ini meliputi (1) Perencanaan pembelajaran bahasa Arab yang memuat; materi yang diajarkan dalam kegiatan pembelajaran, strategi/tehnik pembelajaran, clan evaluasi (penilaian) yang digunakan untuk mengukur hasil belajar. (2) Pelaksanaan pembelajaran bahasa Arab berupa proses belajar mengajar antara guru dengan peserta didik dan proses komunikasi bahasa lisan dan tulisan, di mana guru berperan sebagai komunikator, sedangkan peserta didik sebagai komunikasi. (3) penilaian pembelajaran bahasa Arab merupakan penetapan nilai hasil belajar peserta didik, untuk mencapai tujuan standar kompetensi dan kompetensi dasar serta indicator pencapaian yang diinginkan juga belum maksimal.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Hasyimi, Al-Sayed Ahmad, Jawahir Al-'Adab, Bairut: Mu'asasah Al-Ma'arif.

Arsyad, Azar, Bahasa Arab Dan Metode pengajarannya: Beberapa Pokok pikiran, Cet. II, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004.

Chotib, Achmad, dkk, Pedoman Pengajaran Bahasa Arab Pada Perguruan Tinggi Agama IslamIMIN, Jakarta, Depag RI, Proyek Pengembangan. Sistem Pendidikan Agama, 1976.

Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan dasar Dan Menengah: Petunjuk Teknis Pengembangan Silabus dan Contoh/Model Silabus SMA/MA, Jakarta: 2006.

Hamalik, Oemar. H., Kurikulum Dan Pembelajaran, Jakarta: Bumi Aksara, 1995.

Ibrahim, Abdul Al-Alim, Al-Muwajjah al-Fanniy li mudarrisi al lugah al-`Arabiyyah, Mekkah, Dar al- Ma'arif. t.th.

Moleong J Lexy, Metodologi Penelitian Kualitatif, Edisi Revisi, Bandung: Remaja Rosda Karya, 2007

Kartono Kartini, Pengantar Metodologi Riset, Bandung: Alumni 1984

Maha Ramli, Rancangan Pembelajaran: Desain Instruksional, Cet. I Banda Aceh: Ar-Raniriy Press, 2007

Malik, Oemar, Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem, Cet. VI, Jakarta:Bumi Aksara, 2008.

Muhadjir, Metodologi Penelitian Kualitatif, Edisi IV, Yogyakarta: Rake Sarasin, 2000.

Mulyanto, dkk, Pedoman Pengajaran Bahasa Arab Pada Perguruan Tinggi Agama Islam NegerilLOV, Jakarta: Depag RI, Proyek Pengembangan Sistem Pendidikan Agama, 1976.

Mulyasa, E, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, Cetakan H. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007.

Nasution, S., Metode Research: Penelitian Ilmiah, Cet. D(, Jakarta: Bumi Aksara 2007.

Purwanto, Ngalim, Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran, Cet. VII, Bandung: Remaja Rosda Karya., 1994.

Riyanto, Yatim, Metodologi Penelitian Pendidikan Kualitatif dan Kuantitatif, Surabaya: Unesa University Press, 2007.

Semi, Atar, Rancangan Pengajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, Jakarta, 1989.

Sudijono, Anas, Pengantar Evaluasi Pendidikan, Cet. V, Jakarta: Raja Grafindo Persada: 2005.

Sudjana, Nana, Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar, Bandung: Sinar Baru, 1989.

Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik, Edisi Revisi VI Jakarta, PT. Asdi Mahasatya, 2006

Sukarnto, Imaduddin, dkk, Tata Bahasa Arab Sistematis ; Pendekatan Baru Mempelajari Tata Bahasa Arab, Cet iv, Yogyakarta: Nurma Media Idea, 2005.

Sumardi, Muljanto, dkk., Pedoman Pengajaran Bahasa Arab Pada perguruan Tinggi Agama Islam/MIN, Jakarta: Depag RI, Proyek Pengembangan Sistem Pendidikan Agama, 1976.

Suwardi, Manajemen Pembelajaran: Mencipta Guru Kreatif dan Berkompentensi, Cet I, Salatiga: STAIN Salatiga Press, 2007.

Syafruddin. dkk, Manajemen Pembelajran: Quantum Teaching, Cet. I, Jakarta: Ciputat Press, 2005.

Yunus, Mahmud, Durus Al-Lugah al-`Arabiyyah, Jakarta: Hidakarya Agung.

………, Metodik Khusus Bahasa Arab (Bahasa al-Quran), Jakarta: Hidakarya Agung, 1983.

Yusuf, Tayar, Anwar Saiful, Metodologi Pengajaran Agama Dan Bahasa Arab, Jakarta: Raja Grapindo Persada, 1995.

[1] E. Mulyasa, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Cet. II (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007),  h. 10-11.

[2] Azhar Arsyad, Bahasa Arab dan Metode Pengajarannya; Beberapa Pokok pikiran, Cet. II (Yogyakarta: Pustaka. Belajar, 2004), h. 67.

[3] Ibid., h.19.

[4] Suwardi, Manajemen Pembelajaran: Mencipta Guru Kreatif Dan Berkompetensi, Cet. I, (Salatiga: STAIN Salatiga Press, 2007), h. 31.

[5] Ibid., h. 32.

[6] Ibid.

[7] Oemar H. Malik, Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem, Cet. VI, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), h. 8.

[8] Mulyanto, dkk, Pedoman Pengajaran Bahasa Arab Pada Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri/IAIN, (Jakarta: Depag RI, Proyek Pengembangan Sistem Pendidikan Agama, 1976), h. 91.

[9] Ibid, h. 11.

[10] Ibid, h. 11.

[11] Arsyad, Bahasa Arab Dan Metode…, h. 19

[12] Ibid, h. 67-68

[13] ‘Abd al-‘Alim Ibrahim, al-Muwajjah al-Fanniy li mudarris al-lugah al-‘Arabiyah, (Mekkah: Dar al-Ma’arif, tt), h. 50.

[14] Achmad Chotib. dkk, Pedoman Pengajaran Bahasa Arab Pada Perguruan Tinggi Agama Islam/IAIN, (Jakarta: Depag RI, Proyek Pengembangan Sistem Pendidikan Agama, 1976), h. 108-109.

[15] ‘Abd al-‘Alim Ibrahim, al-Muwajjah al Fanniy…, h. 51

[16] Ibid.

[17] Achmad Chotib. dkk, Pedoman Pengajaran Bahasa Arab …, h. 108.

[18] Ibid, h. 109

[19] Ibid,

[20] Ibid, h. 111.

[21] Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan dasar Dan Menengah, Petunjuk Teknis Pengembangan Silabus dan Contoh Model Silabus SMA/MA, (Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, 2006), h. i.

[22] Lihat Tujuan Pembelajaran Bahasa Arab pada GBPP Madarasah Aliyah Mata Pelajaran Bahasa Arab.

[23] Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan dasar Dan Menengah, Petunjuk Teknis Pengembangan Silabus ..., h. vii.

[24] Mahmud Yunus, Dur-s AI-Lugah al-'Arabiyyah, (Jakarta:Hidakarya Agung), Jilid ii, iii, dan iv. Lihat juga, Tayar Yusuf Saiful Anwar, Metodologi Pengajaran Agama Dan Bahasa Arab, (Jakarta:Raja Grapindo Persada. 1995), h. 191-208.

[25] Hasil tringulasi terhadap hasil analisis data penelitian pada peserta didik

[26] Lihai buku paket bahasa Arab untuk Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah yang dikarang oleh D. Hiday-at Was VII, VIII. FY- X XL dan X11

                [27] Arias Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, Cet. V, (Jakarta: Raja Grafindo Persada; 2005), h. 75.

[28] Galim Purwanto, Prinsip-Prinsip dan Teknik E•aluasi Pengajaran, Cet. VII, (Bandung: Remaja Rosda Km-y-;L 1994), h. 37.
Share this article :

+ komentar + 1 komentar

25 June 2016 at 12:20

sangat bermanfaat, trimakasih.

Post a Comment

Daftar Isi Blog
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Akidah Filsafat - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger