BEBERAPA PENGERTIAN DASAR DALAM ILMU KALAM DAN PENGERTIAN AKIDAH POKOK DAN CABANG

Sunday, 10 February 20131komentar

A.      BEBARAPA PENGERTIAN DASAR

I. IMAN, KUFUR DAN NIFAK

a.                  Iman

Jika dilihat dari asal bahasa kata iman berasal dari bahasa arab “Tasdiq” yang berarti membenarkan, dan dalam bahasa Indonesia kata iman berarti percaya yaitu sebuah kepercayaan dalam hati dan membenarkan bahwa adanya Allah SWT itu benar-benar ada serta membenarkan dan mengamalkan semua yang di ajarkan oleh Nabi Muhammad SAW dan mempercayai Rasul-Rasul sebelumnya. Iman merupakan inti dasar dari sebuah peribadatan, tanpa adanya keimanan sangat mustahil seseorang dapat membenarkan adanya Tuhan.

Menurut pendapat-pendapat ulama fiqih bahwa iman merupakan sebuah Tasdiq di dalam hati hal tersebut yaitu menurut, antara lain:

1. Menurut Abu Abdullah bin Khafif

Iman adalah sebuah pembenaran hati terhadap sesuatu yang telah di jelaskan oleh Al Haq (Allah) tentang masalah-masalah yang gaib[1]

2. Menurut Abdullah At Tustari

Bahwa iman adalah merupakan kesaksian Al-haq[2] dalam. Karena jika Allah di pandang dengan penglihatan tanpa pembatas, dan jika dengan pengetahuan tanpa berakhir.

Dari pendapat para ulama tersebut dapat disimpulkan bahwa iman merupakan hal yang bersangkutan dengan hati. Semua hal-hal yang gaib seperti Tuhan, sifat-sifatnya, akhirat, takdir, rejeki, dan sebagainya merupakan sebuah pembenaran dan kepercayaan hati. Jika dipahami secara mendalam iman mempunyai hubungan yang sangat erat kaitannya dengan amaliyah-amaliyah atau perbuatan. Amaliyah-amaliyah atau perbuatan merupakan tolak ukur keimanan seseorang. Jika seseorang melakukan perbuatan-perbuatan yang menjadikan dirinya dekat dengan Allah, maka dapat dipastikan bahwa seseorang tersebut beriman kepada Allah yaitu dengan menjalankan syariat-syariatnya yang dibawakan oleh Nabi Muhammad SAW.

Dalam pembahasan ilmu kalam konsep iman terbagi menjadi tiga golongan yaitu:

1.      Iman adalah Tasdiq dalam hati atas wujud Allah dan keberadaan Nabi atau Rasul Allah. Menurut konsep ini iman dan kufur semata-mata adalah urusan hati, bukan Nampak dari luar. Jika seseorang membenarkan atau meyakini adanya Allah maka ia dapat disebut teklah beriman kepada Allah meskipun perbuatannya tidak sesuai dengan ajaran agama islam. Konsep iman ini banyak dianut oleh mazhab murjiah yang sebagian besar penganutnya adalah Jahamiyah dan sebagian kecil Asy’ariyah

Menurut paham diatas bahwa keimanan seseorang tidak ada sangkut pautnya dengan perbuatan atau amaliyah-amaliyah zahir, dikarenakan hati adalah sesuatu yang tersembunyi sehingga tidak dapat disangkut pautkan dengan keadaan yang zhahir.

2. Iman adalah Tasdiq di dalam hati dan diikrarkan dengan lidah. Dengan demikian seseorang dapat digolongkan beriman apabila mempercayai dalam hati keberadaan Allah dan mengikrarkan (mengucapkan) dengan lidah. Disini antara keimanan dan perbuatan manusia tidak ada hubungannya. Yang terpenting dalam iman adalah Tasdiq dalam hati dan diikrarkan dengan lisan konsep ini dianut oleh sebagian pengikut Mahmudiyah.

3. Iman adalah Tasdiq dalam hati dan diikrarkan dengan lisan serta dibuktikan dengan perbuatan. Disini diterangkan bahwa antara iman dan perbuatan terdapat keterkaitan karena keimanan seseorang ditentukan pula oleh amal perbuatannya konsep iman ini dianut oleh Mu’tazilah dan Khawarij.

Agama islam adalah agama yang mengajarkan pemeluknya untuk berbuat amal shaleh dan menjauhi larangan-Nya. Oleh sebab itu seseorang dianggap telah sempurna imannya apabila betul-betul telah diyakini dengan hati, diikrarkan dengan lisan, dan dibuktikan dengan perbuatan. Menyangkut tentang ciri keimanan seseorang kita dapat melihat dari tasdiq dan perilakunya.

Manusia mempunyai sifat lahiriyah, sifat inilah yang menjadi ukuran bagi kita untuk melihat keimanan seseorang. Sifat-sifat yang dapat dilihat melalui tindak-tanduk manusia sama ada perkataan atau perbuatan adalah menjadi tanda iman yang menjadi ukuran kita. Adapun segala apa yang tersirat dihatinya adalah terserah kepada Allah SWT.

b.                  Kufur

Kata kufur atau kafir mempunyai lebih dari satu arti. Adapun yang dimaksud kufur dalam pembahasan ini adalah keadaan tidak percaya atau tidak beriman kepada Allah SWT. Maka orang yang kufur atau kafir adalah orang yang tidak percaya atau tidak beriman kepada Allah baik orang tersebut bertuhan selain Allah maupun tidak bertuhan seperti paham komunis (ateis).

Dengan demikian, kufur merupakan keadaan dimana seseorang tidak mengikuti ketentuan – ketentuan syariat yang telah digariskan oleh Allah. Oleh sebab itu, kufur mempunyai lubang-lubang yang kalau tidak hati-hati seseoramg manusia akan terjerumus kedalam lubang yang menyesatkan, seperti syirik, nifak, murtad tidak mau bersyukur, dan sebagainya.

Allah berfirman :

لـَمْ يَكـُنِ الـَّذِيْنَ كـَفـَرُوْا مِنْ اَهْـل ِالـْكِتـَابِ والـْمُشْرِكِيْنَ مُنـْفـَكـِّيْنَ حَتـَّى تَاتِيَهُمُ الـْبَيـِّنَةُ (البينة :

Artinya “orang-orang kafir, yakni ahli kitab dan orang-orang musyik (menyatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata.” (QS. Al-Bayyinah : 1)

c.         Nifak.

Nifak adalah suatu perbuatan yang lahir dan bathinnya tidak sama. Secara lahiriyyah bergama Islam, namun jiwanya atau bathinnya tidak beriman. Munafik adalah orang yang melakukan perbuatan nifak, yaitu orang yang secara lahiriyyah mengaku beriman kepada Allah, mengaku beragama Islam. Bahkan dalam bebrapa hal kelihatan seperti berbuat dan bertindak untuk kepentingan Islam, tetapi sebenarnya hatinya mempunyai maksud lain yang tidak di dasari beriman kepada Allah.

Baik dari segi agama atau moral, sikap ataupun perbuatan munafik dipandang sangat hina. Itulah sebabnya Allah akan menghukum perbuatan mereka dengan dimasukkan ke dalam dasar neraka sebagaimana firman-Nya :

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الأسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا

Artinya : “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.”. (QS. An-Nisa’ : 145)

II. TAUHID ( DZAT), SIFAT, AF’AL, RUBUBIYAH, ULUHIYAH, DAN SYIRIK

a.        Tauhid (Dzat)

Sebenarnya wujud-Nya Allah itu sudah nyata, bahkan merupakan suatu hakikat yang tidak perlu lagi diragukan persoalannya dan tidak ada jalan untuk memungkirinya.

Sesungguhnya hakikat dari Zat tiu tidak mungkin dapat diketahui dengan akal pikiran manusia dan tidak dapat dicapai keadaan atau kenyataan yang sebenarnya. Sebabnya adalah pikiran manusia tidak dapat menjangkau hal tersebut., sehingga manusia tidak diberi dan tidak ditunjuki cara menemukannya atau perantara untuk mencapainya.

Sesungguhnya Zat Allah masih jauh dari lebih besar dari apa yang dapat dicapai oleh akal ataupun yang dapat diliputi oleh pemikiran-pemikiran. Oleh sebab itu, alangkah tepatnya firman Allah SWT :

 (لاتدركه الأبصار وهو يدرك الأبصار وهواللطيف الخبير (الأنعام : ١٠٣

Artinya : “Allah tidak akan dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedangkan Dia dapat melihat segala yang kelihatan, dan Dialah yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-An’am : 103)

Islam memerintahkan kepada manusia untuk memikirkan ciptaan Allah. Yakni semua yang ada di langit, di bumi dalam dirinya dan sebagainya. Namun Islam melarang memikirkan tentang Zat Allah, sebab hal ini adalah di luar kekuatan akal manusia. Mengenai hal ini Rasulallah SAW bersabda :

تفكروا فى خلق الله ولا تفكروا فى الله فإنكم لن تقدروا قدره

Artinya :“Berfikirlah mengenai makhluk Allah dan janganlah berfikir mengenai (Zat) Allah sebab kamu semua tentu tidak akan dapat mencapai kadar perkiraannya.”

Dengan demikian, yang perlu ditanamkan dalam keyakinan orang Islam dalam mengesakan Zat Allah ialah dengan meyakini bahwa Zat Allah tidak tersusun dari beberapa jus (bagian). Hal ini disebabkan Zat Allah itu bukan benda fisik (immateri). Zat Allah tidak seperti badan kita dan benda-benda lainnya yang disusun dari bagian-bagian.

b.        Tauhid sifat.

Yang dimaksud dengan tauhid sifat ( Esa dalam sifat) ialah bahwa sifat-sifat Allah tidak sama dengan sifat-sifat yang lain dan tak seorangpun yang mempunyai sifat sebagimana sifat Allah. Sifat-sifat luhur yang dimiliki Allah merupakan penetapan dan kesempurnaan keutuhan-Nya serta keagungan illahi-Nya.

Dengan demikian, jelas bahwa segala pikiran yang mempersamakan sifat Allah dengan sifat makhluk-Nya adalah tidak benar. Allah berfirman :

(سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يَصِفُونَ (الأنعام : ١٠٠

Artinya : “Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan”. (QS. Al-An’am : 100)

c.         Tauhid Af’al.

Yang dimaksud dimaksud dengan tauhid Af’al atau Esa dalam perbuatan nya ialah bahwa alam semesta ini seluruhnya ciptaan Allah, tidak ada bagian-bagian alam yang diciptakan oleh selain Allah SWT. Tidak ada sekutu bagi-Nya dalam mencipta, memerintah dan menguasai kerajaan-Nya. Allah berfirman :

 (لا إِلَهَ إِلا هُوَ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ  ..... (الأنعام : ١٠٢

Artinya : “Tidak ada Tuhan selain Dia, Pencipta segala sesuatu…..” (QS. Al-An’am : 102)

d.        Tauhid Rububiyah.

Ialah suatu keyakinan seorang muslim bahwa alam semesta beserta isinya telah diciptakan oleh Allah SWT dan selalu mendapat pengawasan dan pemeliharaa dari-Nya tanpa bantuan siapapun. Alam semesta dan segala sesuatu yang berada di dalamnya tidak ada dengan sendirinya. Tetapi ada yang menciptakan atau menjadikan. Yaitu Allah.

Allah SWT berfirman :

ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لا إِلَهَ إِلا هُوَ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ فَاعْبُدُوهُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ (الأنعام : ١٠٢

Artinya : “(Yang memiliki sifat yang ) demikian tiu ialah Allah Tuhan kamu, tidak ada Tuhan selain Dia, pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia, dan Dia adalah pemelihara segala sesuatu.”(Q.S. Al-An’am:102)

Dalam firman Allah tersebut, kata Illah itu berarti tuhan dan kata Rob berarti tuhan yang telah menciptakan, mengatur dan mengurus alam semesta.sedangkan Rububiyyah dinisbahkan kepada Rob. Jadi Tauhid Rububiyah ialah meyakini bahwa Allah SWT sebagai Tuhan satu-satunya yang menciptakan mengurus mengatur serta menguasai alam semesta ini. Tidak ada yang dapat menciptakan, mengurus, mengatur dan menguasai aam semesta selain Allah SWT.

e.         Tauhid Uluhiyyah

Tauhid uluhiyyah adalah percaya atau meyakini sepenuhnya bahwa Allah-lah yang berhak menerima semua peribadahan makhluk dan hanya Allah saja yang sebenarnya harus disembah.

Allah sebagai satu-satunya tempat disembah, bukan berarti Allah berhajat disembah oleh hamba-Nya karena Allah tidak membutuhkan bakti, dari makhluk-Nya. Penyembahan disini merupakan wujud ketaatan dan kepatuhan hamba dengan Tuhan, antara makhluk dengan Khaliknya.

Tauhid atau keyakinan semacam ini terlukis di dalam ucapan seorang muslim ketika dia membaca do’a iftitah waktu melaksanakan sholat.

ان صلا تي ونسكي ومحياي ومماتي لله رب العالمين.

Artinya : “sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku matiku hanya untuk Allah Robbul’alamain.”

f.         Syirik.

Syirik adalah perbuatan menyekutukan Allah, sekalipun orang tersebut mempercayai adanya Allah. Karena mencampurbaurkan kepercayaan terhadap Allah dengan kepercayaan terhadap yang lain yang dianggap sebagai Tuhan, sehingga ia tidak sepenuhnya mempercayai ke Esaan dan kemahakuasaan Allah SWT.

Allah berfirman :

 (ان الله لايغفر ان يشرك به .....(النساء : ٤

Artinya : ”Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa Syirik…..”.(QS. An-Nisa’ : 48)

Rosulullah SAW bersabda :

الشرك أخفى فى امتي من دبيب النمل على الصفا فى الليلة الظلماء. ((رواه الحاكم

Artinya : “ Syirik dalam umatku sangat samar seperti semut kecil yang terdapat pada batu hitam pada malam yang gelap gulita”. (HR. Hakim)

III. AKIDAH YANG BENAR, KHURAFAT, DAN TAKHAYUL

a.        Akidah yang benar

Agama dalam agama Islam adalah merupakan inti pokok yang diajarkan dalam Al-Quran. Karena itu, ajaran akidah yang benar harus sejalan dengan isi kandungan Al-Quran. Dalam hal ini, Nabi Muhammad SAW diutus oleh Allah untuk menjabarkan ajaran Tauhid yang terdapat dalam al-Quran melalui bentuk, sikap dan pengamalan atau praktek.

b.        Khurafat dan Takhayul.

Khurafat berasal dari kata kharaf yang berarti rusak, rusak akal karena tua. Khurafat artinya omongan dusta yang dipermanis atau omongan dusta yang menakjubkan. Dalam konteks pembahasan ini, khurafat adalah ajaran-ajaran yang bukan-bukan atau kepercayaan yang bukan-bukan.

Adapun takhayul ialah sesuatu yang termasuk khayal, tidak masuk akal atau tidak terbukti dalam kenyataan. Pengertian ini mencakup hal-hal yang biasa berlaku di masyarakat dengan suatu yang sering di istilahkan dengan gugon tuhon. Yaitu kepercayaan masyarakat yang tidak berlandaskan dalil atau didasarkan dalil atau didasarkan ilmu. Orang yang mempercayai khurafat ataupun takhayul juga tidak berdasarkan ilmu atau dalil yang dapat dijadikan dasar kepercayaan. Mereka yang mempercayai khurafat dan takhayul dikarenakan mereka mengikuti kepercayaan pendahulunya. Mereka sendiri juga tidak yakin benar bahwa apa yang dipercayai itu benar, namun mereka takut menanggung resiko yang seolah-olah akan terjadi. Keraguan dan kekhawatiran mereka justru sebenarnya yang menyebabkan mereka menanggung resiko dari apa yang mereka percayai itu.

Memang kepercayaan khurafat ataupun takhayul dapat tumbuh di berbagai tempat, karena di sengaja oleh setan yang selalu berusaha menyesatkan manusia dari kebenaran. Setan suka menyemai keraguan pada hati manusia. Dari keraguan itu setan lebih mudah untuk menggoyahkan hati manusia untuk dicondongkan ke arah yang seolah-olah apa yang dicondongi oleh manusia merupakan kecondonan yang harus didikuti oleh dirinya. Namun sesungguhnya mereka tidak sadar bahwa setan telah menggoyahkan hati mereka dengan bisikan-bisikan yang menyebabkan mereka condong pada sesatnya kepercayaan.

B.     PENGERTIAN AKIDAH POKOK DAN CABANG

I.  Akidah Pokok

Yang dimaksud akidah pokok adalah Akidah umat Islam pada masa Nabi dan masa khalifah Abu Bakar As-Sidik dan Umar bin Khattab persoalan akidah masih dapat dipertahankan yaitu disebut Rukun Iman yang mencakup 6 aspek dalam pembahasan ini disebut dengan akidah Pokok yaitu sebagai berikut :

1.        Iman kepada Allah

2.        Iman kepada Malaikat-malaikat Allah

3.        Iman kepada Kitab-kitab Allah

4.        Iman kepada Rasul-rasul Allah

5.        Iman kepada Hari Kiamat

6.        Iman kepada Qada dan Qadar

 Dalam pertemuan kali ini kita akan membahas tentang akidah pokok tersebut yang mencakup 6 aspek

1.    Iman Kepada Allah

Inti pokok dalam ajaran Islam dalam al-Qur'an adalah akidah. sedangkan inti dari akidah adalah tauhid yakni keyakinan bahwa Allah SWT. Maha Esa, tidak ada Tuhan selain-Nya.

Dalam rukun Iman, percaya kepada Allah atau iman kepada Allah menempati urutan pertama. Yang dimaksud iman kepada Allah ialah percaya sepenuhnya, tanpa keraguan sedikitpun, akan adanya Allah SWT. Yang maha Esa dan Maha Sempurna, baik Zat, sifat maupun Af'al-Nya. Keyakinan ini membawa seseorang kepada kepercayaan akan adanya para malaikat, kitab-kitab, para Rasul atau Nabi, adanya hari kiamat dan kepercayaan tentang takdir.

Allah telah mensifati diri-Nya dalam Al-Qur'an dengan lafal-lafal yang pada asalnya untuk mengindikasikan makna-makna bumi dan pengertian-pengertian manusia, sekalipun Allah itu tidak bisa diserupai oleh sesuatu pun. Adapun sifat-sifat Allah SWT terdapat 20 yang wajib dan 20 yang muhal bagim Allah serta  1 yang jaiz bagi Allah. Sifat-sifat yang wajib bagi Allah SWT adalah:

1.        Ada (Al-Wujud)

2.        Dahulu (Al-Qidam)

3.        Kekal (Al-Baqa')

4.        Berbeda dengan Mahluk Lain (Al-Mukhaalafatuhu lil Hawaadits)

5.        Ada dengan sendirinya (Al-Qiyaamuhu bi Nafsihi)

6.        Maha Esa/Tunggal (Al-Wahdaniyah)

7.        Mahakuasa (القدرة)

8.        Maha Berkehendak (الإرادة)

9.        Maha Mengetahui (العلم)

10.    Mahahidup (الحياة)

11.    Maha Mendengar (السمع)

12.    Maha Melihat (البصر)

13.    Allah Maha Berkata (Al-Kalam)

14.    Keadaan-Nya Maha Kuasa (Kaunuhu Qadiran)

15.    Keadaan-Nya Maha Berkehendak (Kaunuhu Muridan)

16.    Keadaan-Nya Maha Mengetahui (Kaunuhu 'Aliman)

17.    Keadaan-Nya Mahahidup (Kaunuhu Hayyan)

18.    Keadaan-Nya Maha Mendengar (Kaunuhu Sami'an)

19.    Keadaan-Nya Maha Melihat (Kaunuhu Bashiran)

20.    Keadan-Nya Maha Berbicara (Kaunuhu Mutakalliman)

II.      Akidah Cabang Yang Diperselisihkan

Setelah berakhirnya kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab umat Islam tidak dapat menahan diri dengan apa yang telah dijaga bersama. Kemudian muncul kemelut yang pada klimaksnya melahirkan peristiwa pembunuhan Khalifah Usman bin Affan (Tahun 345-656 M) oleh para pemberontak yang sebagian besar dari Mesir yang tidak puas dengan kebijakan politiknya.

Memang secara lahir nampak peristiwa adalah persualan politik yang berkembang menjadi persoalan Akidah (Teologi) yang melahirkan berbagai kelompok dan aliran teologi dengan pandangan dan pendapat yang berbeda-beda. Pada masa umat Islam tidak mampu lagi mempertahankan kesatuan dan keutuhan akidah, karena masing-masing berusaha membuka persoalan akidah yang pada masa sebelumnya terkunci. Masing-masing kelompok membawa keluar persoalan Akidah untuk dilepaskan bersama kelompoknya sehingga muncul pemahaman versi kelompok tersebut.

Maka lahir cabang-cabang akidah yang pemahaman bervariasi dari masing-masing aspek rukun iman misalnya rukun iman yang pertama (iman kepada Allah) muncul perbedaan pendapat (ikhtilaf) dalam membicarakan zat tuhan, sifat tuhan, dan af’a’al (perbuatan) tuhan.

Persoalan yang muncul dalam masalah iman kepada malaikat separti, apakah iblis termasuk golongan dari mereka.

Dalam mempercayai kitab Allah juga muncul persoalan yang diikhtilafkan seperti apakah kitab (wahyu) itu Hudust (diciptakan) atau bukan makhluk sehingga bersifat kekal (qadim). Mereka juga berpendapat mengenai berapa jumlah Rasul atau Nabi yang pernah diutus oleh Allah kebumi.

Persoalan yang muncul dari keyakinan tentang hari kiamat adalah balasan apakah yang akan diterapkan kelak pada hari kiamat, jasmani atau hanya rohani saja.

Adapun persoalan yang muncul disekitar masalah rukun iman yang ke enam (iman kepada takdir) adalah apakah manusia mempunyai kebebasan dalam berbuat ataukah sebaliknya.

A.      Tuhan

Inti pokok ajaran Al-Qur’an adalah Akidah. Sedang inti dari akidah adalah tauhid yakni keyakinan bahwa Allah SWT Maha Esa. Tidak ada tuhan selain-Nya.

Allah berfirman :

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ . اللَّهُ الصَّمَدُ . لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ . وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

Artinya : “Katakanlah: “Dia-lah Allah, yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakan. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan dia.” (Q.S.Al-Ikhlas : 1-4)

Iman kepada Allah ialah percaya sepenuhnya, tanpa keraguan sedikit pun, akan ada Allah SWT Yang Maha Esa dan Maha Sempurna, baik zat, sifat maupun Af’an-Nya. Dalam mengenal Allah SWT, manusia hanya mampu sampai batas memgetahui bahwa zat Tuhan Yang Maha Esa itu ada (wujud)” Tidak lebih dari itu. Untuk lebih lanjut manusia memerlukan wahyu sebagai petunjuk dari Tuhan. Sebab itulah, Tuhan mengutus para Rasul atau Nabi-Nya untuk menjelaskan apa dan bagaimana Tuhan itu dengan petunjuk wahyu.

Meskipun demikian, Nabi hanya menjelaskan bentuk sifat-sifat Allah yang maha kuasa dengan bukti keberadaan, keesaan, dan kekuasaan-Nya. Nabi sendiri dalam salah satu hadisnya menyatakan tidak diperkenankan-Nya memikirkan zat Allah, sebab tidak akan mencapai hakikat yang sebenarnya. Seorang mukmin hanya perlu berpikir mengenai apa yang telah diciptakan-Nya dan menghayati sepenuhnya akan keberadaan zat Allah Yang Maha Esa. Dengan demikian, keimanan seseorang mukmin kepada Allah terhimpun dalam persepsi yang sama.

Namun dalam kenyataannya karena berkembangnya filsafat dikalangan kaum muslimin dan sebagainya menjadikan kaum muslimin terusik untuk membicarakan perihal ketuhanan secara lebih luas melalui kedalaman ilmunya sehingga melahirkan pemahaman yang berbeda (ikhtilaf) dalam sekitar pembahasan ketuhanan diantaranya mengenai Zat, sifat, dan Af”al/perbuatan Tuhan.

Dalam masalah zat Tuhan muncul pendapat yang menggambarkan Tuhan dengan sifat-sifat bentuk jasmani/fisik. Golongan ini disebut Mujassimah (orang-orang yang merumuskan Tuhan).

Sedangkan masalah sifat Tuhan juga muncul persoalan, apakah Tuhan itu mempunyai sifat atau tidak. Dalam hal ini muncul 2 golongan pendapat :

Pertama : Golongan Mu’atilah yang diwakili oleh Golongan Mu’tazilah yang berpendapat bahwa Tuhan tidak mempunyai sifat. Dia adalah Esa, bersih dari hal-hal yang menjadikan tidak Esa. Mereka meng Esakan Tuhan dengan mengosongkan Tuhan dari berbagai sifat-sifat.

Kedua : Golongan Ahlus Sunah Wal Jamaah yang diwakili oleh golongan (Asy’ariyah dan Maturidiyah ) meyakini bahwa Tuhan mempunyai sifat yang sempurna dan tidak ada yang menyamai-Nya. Mensifati Tuhan dengan sifat-sifat kesempunaan tidak akan mengurangi ke Esaan-Nya

Dan dalam masalah perbuatan/Af-Al Tuhan muncul perbedaan cabang seperti ; apakah Tuhan mempunyai kewajiban berbuat. Golongan Mu’tazilah berpendapat bahwa Tuhan mempunyai kewajiban berbuat baik dan terbaik bagi manusia (As-Salah Al-Asbah). Sebaliknya, golongan Ahlus Sunah Wal Jamaah (Asy’ariyah dan Maturidiyah) berpendapat bahwa Tuhan tidak mempunyai kewajiban kepada makhluk-Nya. Tuhan dapat berbuat sekehendak-Nya terhadap makhluknya karena kalau Tuhan mempunyai kewajiban berbuat berarti kekuasaan Tuhan dan kehendak Tuhan tidak mutlak.

B.  Malaikat

Iman kepada malaikat mengandung arti bahwa seorang mukmin hendaknya percaya sepenuhnya bahwa Allah menciptakan sejenis makhluk yang disebut malaikat.

Malaikat ialah makhluk halus ciptaan Allah yang terbuat dari Nur (cahaya). Mereka adalah hamba Allah yang mulia dan selalu menuruti perintah-Nya. Malaikat tidak mempunyai nafsu dan mereka tidak pernah mendurhakai kepada Allah dan senantiasa menjalankan tugasnya.

Tugas dan pekerjaan malaikat berbeda-beda mereka dipimpin oleh sepuluh malaikat yang wajib diketahui yakni :

a.              Jibril, yaitu yang menjabat pimpinan malaikat dan menyampaikan wahyu.

b.             Mikail bertugas mengatur kesejahteraan manusia dan semua makhluk.

c.              Izra’il bertugas mencabut nyawa semua jenis makhluk.

d.             Munkar dan Nakir bertugas menanyai manusia setelah mati didalam kubur.

e.              Raqib dan Atid bertugas mencatat semua amal kebaikan dan keburukan manusia.

f.              Israfil bertugas meniup terompet pada hari kiamat dan hari kebangkitan.

g.             Ridwan bertugas menjaga surge

h.             Malik bertugas menjaga neraka

C.   Kitab-Kitab/Wahyu

Beriman kepada kitab Allah ialah mempercayai bahwa Allah menurunkan beberapa kitab kepada para Rasul untuk menjadikan pedoman hidup manusia dalam mencapai kebahagiaan didunia dan akhirat.

Kitab-kitab yang telah diturunkan Allah kepada para rasul cukup banyak, namun yang jelas disebutkan dalam Al-Qur’an hanya empat dan wajib diketahui oleh orang Islam, yaitu:

-       Taurat diturunkan kepada Nabi Musa a.s

-       Zabur diturunkan kepada Nabi Daud a.s

-       Injil diturunkan kepada Nabi Isa a.s

-       Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW

Permasalahan yang diikhtilafkan dalam persoalan kitab dikalanagan orang Islam ialah apakah Al-Qur’an itu Qadim (kekal) atau hadis (baru). Golongan Asy’ariyah dan Maturidiyah berpendapat bahwa Al-Qur’an adalah Qadim, bukan makhluk (diciptakan). Sedangkan pendapat yang lain mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah tidak qadim karena Al-Qur’an itu diciptakan (makhluk).

D.  Nabi atau Rasul

Beriman kepada Rasul-Rasul Allah ialah meyakini bahwa Allah telah memilih beberapa orang diantara manusia, memberikan wahyu kepada mereka dan menjadikan mereka sebagai utusan (Rasul) untuk membimbing manusia kejalan yang benar.

Mereka diutus Allah untuk mengajarkan Tauhid, meluruskan aqidak, membimbing cara beribadah dan memperbaiki akhlak manusia yang rusak. Beiman kepada Rasul cukup secara global (Ijmal) dan yang wajib diketahui ada 25 Rasul, Yaitu :

1.        Nabi Adam a.s

2.        Nabi Idris a.s

3.        Nabi Nuh a.s

4.        Nabi Hud a.s

5.        Nabi Shaleh a.s

6.        Nabi Ibrahim a.s

7.        Nabi Luth a.s

8.        Nabi Ismail a.s

9.        Nabi Ishaq a.s 10. Nabi Ya’qub a.s

10.    Nabi Yusuf a.s

11.    Nabi Ayub a.s

12.    Nabi Syu’aib a.s

13.    Nabi Musa a.s

14.    Nabi Harun a.s

15.    Nabi Zulkifli a.s

16.    Nabi Daud a.s

17.    Nabi Sulaiman a.s 19. Nabi Ilyas a.s

18.    Nabi Ilyasa’ a.s

19.    Nabi Yunus a.s

20.    Nabi Zakaria a.s

21.    Nabi Yahya a.s

22.    Nabi Isa a.s

23.    Nabi Muhammad SAW

Masalah yang masih diperselisihkan dalam kaitannya dengan iman kepada para Nabi dan Rasul adalah mengenai jumlah. Hanya Allah yang mengetahui jumlahnya. Sebagian ulama mengatakan bahwa jumlah seluruhnya adalah 124.000 orang. Dari sejumlah itu yang diangkat menjadi Rasul ada 313 orang.

E.  Hari Akhirat ( Hidup Sesudah Mati )

Hari kiamat (Hari Akhirat) ialah kehancuran alam semesta segala yang ada didunia ini akan musnah dan semua makhluk hidup akan mati, selanjutnya akan berganti dengan yang baru yang disebut Alam Akhirat.

Iman kepada hari kiamat berarti mempercayai akan adanya hari tersebut dan kehidupan sesudah mati serta beberap hal yang berhubungan dengan hari kiamat. Seperti kebangkitan dari kubur, Hisab (Perhitungan Amal), Sirat (Jembatan yang terbentang diatas punggung neraka), Surga dan Neraka.

Kapan hari kiamat akan datang, tidak seorangpun yang tahu dan hanya Allah saja yang mengetahui. Manusia hanya diberi tahu melalui tanda-tandanya sebelum hari kiamat tiba.

Para ulama telah sepakat dalam masalah adanya hari kiamat dan hal-hal yang terjadi didalamnya hanya saja mereka Ikhtilaf tentang apa yang akan dibangkitkan. Pendapat pertama mengatakan bahwa yang dibangkitkan meliputi jasmani dan rohani. ini dikeluarkan oleh golongan Ahlus Sunah Wal Jamaah. Adapun pendapat kedua yang dibangkitkan adalah rohnya saja.

F.   Takdir atau Sunatullah

Beriman kepada takdir artinya seseorang mempercayai dan meyakini bahwa Allah SWT. Telah menjadikan segala makhluk dengan Kudrat dan Iradat-Nya dan dengan segala hikmah-Nya.

Allah berfirman :

إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ

Artinya : “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukurannya.” (Q.S.Al-Qamar : 49)

Beriman kepada takdir bagi setiap orang muslim bukan dimaksudkan untuk menjadikan manusia lemah, pasif, statis atau menyerah tanpa usaha. Bahkan dengan beriman kepada takdir mengharuskna manusia untuk bangkit dan berusaha keras demi mencapai takdir yang sesuai kehendak yang diinginkan.

Firman Allah SWT :

إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

Artinya : “Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (Q.S.Ar-Rad : 11 )

Dalam persoalan mengimani takdir, orang Islam sepakat perlunya meyakini adanya ketentuan Allah yang berlaku bagi semua makhluk yang ada dialam semesta ini. Namun berbeda dalam memahami dan mempraktekannya

Gilongan Jabariyah yang dipelopori oleh Jahm bin Sahfwan berpendapat bahwa takdir Allah berarti manusia tidak memiliki kemampuan untuk memilih, segala perbuatan dan gerak yang dilakukan manusia pada hakikatnya adalah dari Allah semata, manusia menurut mereka sama seperti wayang yang digerakkan oleh ki dalang karena itu manusia tidak mempunyai bagian sama sekali dalam mewujudkan perbuatan-Nya.

Pendapat lain bahwa manusia mampu mewujudkan perbuatannya. Tuhan tidak ikut campur tangan dalam perbuatan manusia itu dan mereka menolak segala sesuatu terjadi karena takdir Allah SWT. Golongan mereka disebut Aliran Qadariyah yang dipelopori oleh Ma’bad Al-Jauhari dan Ghailan Al-Damsiki.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’an dan Terjemahannya, Departemen Agama RI, Departemen Agama RI

Andul Rozak dan Rosihon Anwar, Ilmu Kalam, Pustaka Setia, tt

Drs. H. abdul Ahmadi, Dosa dalam Islam, Rineka cipta, Jakarta, 1991.

Syaikh Ja’far Subhani, Tauhid dan Syirik, Mizan, Bandung, 1996

Munawir Akhmad Warson, Kamus Al-Munawir, Pustaka Progresif, Surabaya, 1997.

Muhammad Abdul Hadi, Manhaj dan Aqidah Ahlussunah wal Jama’ah, Gema Insani press, Jakarta, 1994, hal. 67-68.

Muhammad bin Husain Al-Jizani, Bid’ah, http://almanhaj.or.id/index, tt

Share this article :

+ komentar + 1 komentar

Anonymous
28 November 2013 at 19:59

Assalamualaikum wrwb
1 Kenapa tidak ada tauhid asma washifat, cuma shifat saja
2. Quote :
3. Iman adalah Tasdiq dalam hati dan diikrarkan dengan lisan serta dibuktikan dengan perbuatan. Disini diterangkan bahwa antara iman dan perbuatan terdapat keterkaitan karena keimanan seseorang ditentukan pula oleh amal perbuatannya konsep iman ini dianut oleh Mu’tazilah dan Khawarij

Jadi posisi Ays'ari dan ahli sunnah wal jaamah dimana bro ? Klo gitu iman yg tidak khawarij yaitu iman di hati dan lidah saja ya ?

Post a Comment

Daftar Isi Blog
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Akidah Filsafat - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger